Google Demo Day Asia 2018 telah sukses diselenggarakan di Shanghai, 20 September 2018 kemarin. Sepuluh startup yang terpilih dari seluruh Asia telah melakukan presentasi dan pitching di hadapan juri yang terdiri dari Jenny Lee, Managing Partner GGV Capital, QingSheng Zheng, Partner Sequoia Capital China, Plern Tee Suraphongchai, Partner Ventura Capital, dan Bradley Horowitz, Vice President of Product Management Google.

Di acara tersebut, Indonesia sukses mengirimkan satu-satunya wakil, yaitu DycodeX, sebuah startup yang mendesain dan mengembangkan produk-produk disruptif di bidang IoT. Keikutsertaan DycodeX di acara internasional ini dijembatani oleh KIBAR, pembangun ekosistem startup di Indonesia yang juga bermitra dengan Google. Founder dan CEO DycodeX, Andri Yadi, mengaku bahwa pengalaman memberikan presentasi di Google Demo Day merupakan pengalaman menegangkan yang tak terlupakan.

Andri Yadi (CEO, DycodeX) pitching di harapan ribuan hadirin di Google Demo Day Asia | Dok: DycodeX

“Google Demo Day Asia benar-benar pengalaman luar biasa karena ini adalah panggung terbesar yang pernah saya hadiri,” tutur Andri Yadi. “Menegangkan pasti, karena ada seribu pasang mata yang menonton siapapun di panggung, tapi sangat menantang. Kesan yang terbaik yang saya dapatkan adalah Google yang benar-benar mendukung kita para finalis dan menghubungkan kita dengan orang-orang yang berpengalaman dari industri IoT untuk kita terus belajar.”

Dari sepuluh startup yang berlomba, startup dari India yang menggunakan artificial intelligence untuk mendukung sistem kesehatan bernama SigTuple terpilih sebagai Pemenang Pilihan Juri. Selain itu, Marham dari Pakistan berhasil dianugerahi Penghargaan Pilihan Audiens. Marham sendiri adalah platform yang memudahkan masyarakat Pakistan di Lahore, Islamabad, dan Karachi untuk menemukan dokter dan spesialis kesehatan lain.

Meski tidak keluar sebagai salah satu pemenang yang dianugerahi penghargaan, Andri Yadi menuturkan kekagumannya pada kompetitor favoritnya yang juga terpilih menjadi Juara Favorit di Google Demo Day Asia, yaitu Origami Labs.

“Saya kagum dengan Origami Labs dari Hong Kong. Mereka buat cincin cerdas bernama ORII yang bisa menerima perintah suara buat menelepon atau kirim SMS cuma dengan menepuk telinga yang kini sudah siap dipasarkan,” ujar Andri.

Selain tampil di hadapan para juri di panggung akbar, momen lain yang paling membekas bagi Andri adalah ketika ia bertemu dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Hong Kong. “Mereka kaget ketika tahu bahwa ada startup IoT dari Indonesia yang lolos seleksi finalis Google Demo Day,” ujar Andri Yadi. “Mereka berharap lebih banyak lagi startup dari Indonesia yang bisa mengikuti kompetisi tingkat Asia, terutama di China. Kita dititipkan pesan untuk terut membina calon kontingen dari Indonesia yang mau berkompetisi di ranah Asia.”

Foto bersama Andri dengan peserta Google Demo Day Asia lainnya | Dok: DycodeX

Prestasi luar biasa yang ditorehkan oleh DycodeX ini resmi menjadi jalan pembuka bagi startup lain dari Indonesia untuk bersaing di kancah global, sekaligus membuktikan bahwa dengan kerja keras, dedikasi, dan kreativitas, pemuda bangsa Indonesia mampu menebar manfaat lebih luas lagi.

BACA JUGA:  Leonika Sari, Founder Reblood: Setelah Ke MIT, Ingin Fokus Bikin Startup
Categories: Tech & Startups