Indonesia termasuk negara dengan sumber energi terbesar di ASEAN serta memiliki sumber terbaik untuk geothermal (volcano) dan hydro (air). Namun sangat disayangkan, data yang dirilis dari Dewan Energi Dunia menunjukkan bahwa Indonesia berada di peringkat ke-69 dari 129 negara pada 2014, melorot dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Penyebabnya, karena ketidakseimbangan laju ketersediaan energi dengan kebutuhan.

Itu sebabnya, Digitaraya Powered by Google Developers Launchpad berkolaborasi dengan New Energy Nexus SEA dalam menyelenggarakan NYALA Smart Energy Hackathon 2018, akhir minggu lalu, tanggal 14-15 Juli 2018 di ROMBAK Event Space, Menara by KIBAR Lantai 2, Jakarta. Acara ini merupakan salah satu rangkaian program kolaborasi antara Digitaraya Powered by Google Developers Launchpad dan Nexus SEA yang diadakan bagi para developer dan entrepreneur yang tertarik untuk memecahkan masalah dalam industri energi melalui teknologi digital.

Melalui acara yang berlangsung selama dua hari ini, para peserta, yang terdiri dari delapan tim startup yang diedukasi mengenai kasus serta potensi aktual yang dihadapi industri energi. Mereka juga ditantang untuk menciptakan solusi digital dari permasalahan dalam industri energi.

Acara hari pertama dibuka oleh Nicole Yap (VP Strategy and Business Development, Digitaraya Powered by Google Developers Launchpad). Nicole menceritakan tentang Digitaraya dan tujuan mereka untuk membangun solusi-solusi cerdas dalam menghadapi tantangan Indonesia di sektor energi. “Selama tujuh bulan program, kami telah bertemu expert, developer, dan energy startup. Kami juga mengadakan berbagai  meet up yang membahas tema-tema seperti microgrid, Internet of Thing, sampai ke tahap Hackathon ini,” ungkap Nicole. Setelahnya, Thomas Chrometzka (Program Director, Nexus SEA), menjelaskan lebih lanjut mengenai Nexus SEA sebagai sebuah inisiatif dukungan terhadap startup smart energy di Asia Tenggara yang dibentuk oleh CalCEF dan GIZ pada tahun 2017, dengan maksud membangkitkan semangat anak muda untuk lebih memperhatikan masalah energi. Hal ini tentunya sejalan dengan misi Nexus SEA, yaitu untuk membantu mempercepat ekosistem startup smart energy.

Thomas Chrometzka (Program Director, Nexus SEA) | Dok: Menara by KIBAR

Setelah NYALA Smart Energy Hackathon 2018 resmi dibuka, masing-masing tim startup memperkenalkan diri. Mereka adalah Asád Team, yang pada Hackathon ini khusus ingin membuat Eltan (internet-based device yang memonitor penggunaan listrik dan dapat memprediksi total biaya dari penggunaan) untuk memecahkan masalah efisiensi listrik pada penggunaan sehari-hari; EREnesia, yang mengembangkan aplikasi  berbasis spatial-based platform untuk mengakses, menganalisis, dan menampilkan data untuk mendukung project energi terbarukan; LedgerNow, yang datang dengan solusi transparansi dashboard untuk menunjukkan distribusi energi dan sumber daya secara real time dari hulu ke hilir; NewLight, yang ingin membawa solusi ke daerah-daerah pedesaan yang belum mendapatkan listrik; Replus, yang berfokus pada isu-isu pemborosan listrik; INDI Energy, dengan idenya untuk pemenuhan energi listrik di indonesia dan pengembangan energi terbarukan dengan melakukan crowd solar farming (mengajak orang Indonesia untuk berinvestasi di solar panel); PMA, yang ingin membuat prototipe kecil untuk aplikasi energi terbarukan; Inovasi Dinamika Pratama yang berfokus pada pengembangan energi terbarukan di area terpencil menggunakan smart survey;  Artemis yang ingin menyelesaikan isu penggunaan energi yang tidak efisien di gedung-gedung bertingkat;  dan yang terakhir CODEPLAY, yang datang dengan solusi untuk energy mobility dalam bentuk powerbank rental system.

Selama Hackathon berlangsung, ada beberapa sesi Mentor Talk yang disesuaikan dengan kebutuhan para startup. Sesi Mentor Talk ini dilakukan oleh Yanuar Dwi Nurcahyo (Product Designer, Bizzy Indonesia) yang membahas mengenai Product Design, Hengki Sihombing (Co-Founder & CTO, Urbanhire), yang membahas mengenai Product Development, Wulan Mantik (Senior Product Manager, Bukalapak), yang membahas mengenai Usability Testing, Bayu Adi Persada (Senior Product Manager, Bukalapak), yang membahas mengenai Talk on Utilizing Insights for Product Development, Hadi Othman (CEO, Recap), yang membahas mengenai Business Model, serta Leonika Sari (CEO, Reblood), yang membahas mengenai Product Pitching.

Wulan Mantik (Senior Product Manager, Bukalapak) dalam sesi Mentor’s Talk | Dok: Menara by KIBAR

Waktu yang diberikan kepada para peserta dalam Hackathon ini adalah 24 jam, di mana mereka harus menciptakan inovasi-inovasi terbaik dan menuangkannya ke dalam bentuk solusi digital. Di sela-sela Hackathon, selain sesi Mentor Talk juga ada Anchor Mentor yakni pakar-pakar dari industri energi, yang khusus mendampingi tim.

Erenesia menjadi Juara 1 NYALA Smart Energy Hackathon | Dok: Menara by KIBAR

Di hari terakhir, para peserta Hackathon diminta untuk mempresentasikan ide mereka di depan panel juri, demi mendapatkan kritik atau saran untuk perkembangan selanjutnya dari produk atau solusi mereka. Beberapa kriteria yang digunakan para juri untuk penilaian, yaitu pemilihan masalah, solusi, dan originalitas, teknologi dan penyelesaian aplikasi, desain aplikasi (UI/UX), fungsional dan kegunaan aplikasi, serta potensi bisnis.

BACA JUGA:  Saatnya Startup Digital Ikut Berkontribusi Pecahkan Masalah Energi di Indonesia
Categories: Tech & Startups