Tulisan ini adalah lanjutan dari kisah CEO Reblood Leonika Sari dalam program Blackbox Connect 22 di Silicon Valley, di mana ia menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang terpilih bersama dengan 14 wanita pengusaha lainnya dari seluruh dunia.

Program Blackbox Connect 22 yang diadakan di Silicon Valley, San Fransisco telah berlalu. Saya, Leonika Sari (CEO Reblood) menjadi salah satu peserta program yang pada tahun ini memfokuskan pemilihan pesertanya pada pendiri perusahaan startup wanita. Hal ini menjadi sangat penting, apalagi mengetahui fakta berdasarkan data yang dilansir dari Crunchbase, hingga kuartal pertama 2018, hanya 18% perusahaan startup di dunia yang didirikan oleh wanita. Jumlah ini tidak meningkat secara signifikan sejak tahun 2009, yang persentasenya hanya 9%.

Leonika Sari (CEO, Reblood) bersama para peserta Blackbox Connect | Dok: Pribadi

Program residensi yang berlangsung selama dua minggu dari tanggal 21 Mei hingga 1 Juni lalu ini membekali pesertanya dengan berbagai diskusi, presentasi, hingga workshop. Beberapa pembicara yang membagikan ilmu mereka untuk kami, para “Blackboxers”, adalah Gené Teare (Head of Content, Crunchbase), Bill Joos (Principal, Go To Market Consulting), Kristin Schaefer (SVP of Finance & Strategy, Postmates), Pamela Newenham (Founder, GirlCrew), Mårten Mickos (CEO, HackerOne), Shernaz Daver (Executive Advisor, Google Ventures), Alex Tauber (Head of Entrepreneurial Commitment Group, Stanford University), Holly Liu (Co-founder, Kabam & Visiting Partner, YC), dan Ryan Panchadsaram (Kleiner, Perkins, Caufield and Byers).

Leonika Sari berkesempatan berfoto bersama dengan Gené Teare (Head of Content, Crunchbase) | Dok: Leonika

Ada beberapa hal disampaikan oleh para pembicara yang menjadi catatan penting bagi saya sebagai bekal untuk mengembangkan Reblood ke arah yang lebih baik. Catatan ini juga bisa bermanfaat untuk kalian semua para pendiri perusahaan startup atau yang sedang mempersiapkan diri menuju ke sana.

  • Menjadi CEO atau pendiri perusahaan adalah pekerjaan paling ‘lonely’ di dunia ini

Bahkan menurut Mårten Mickos lebih kesepian dibandingkan orang yang bekerja di mercusuar di pulau terpencil. Wow, kesepian banget ya? Sebenarnya kesepian ini merupakan sebuah gambaran betapa seorang CEO atau pendiri perusahaan tidak bisa menceritakan semua permasalahan yang dihadapi kepada semua orang, karena permasalahan tersebut seringkali hanya bisa dipikirkan sendiri. Begitu pula dengan berbagai keputusan berat yang tidak dapat membahagiakan semua pihak, sehingga menyebabkan pemimpin menjadi sosok yang mungkin disegani, namun tidak punya teman, sahabat, atau rekan yang benar-benar bisa dipercaya.

Leonika Sari (CEO, Reblood) dan peserta Blackbox Connect 22 di sesi foto bersama Mårten Mickos (CEO, HackerOne) | Dok: Leonika
  • Keberagaman dalam tim sangat penting

Keberagaman tersebut, menurut Mårten Mickos, termasuk dalam hal umur, latar belakang, etnik, dan perspektif. Perbedaan generasi memang kerap menimbulkan masalah komunikasi dan perbedaan cara pandang, namun seharusnya hal ini harus diterima dengan baik dan tidak dihindari.

  • Pekerjakan orang yang tepat, dengan visi, misi, dan nilai yang sama

Karyawan di tahap awal tidak hanya membantu membangun kultur perusahaan, namun ada saatnya juga mereka yang akan ‘mengingatkan’ CEO atau pendiri perusahaan untuk tetap fokus pada visi dan misi awal. CEO atau pendiri perusahaan bisa saja mulai teralihkan dengan berbagai hal ketika perusahaan mulai berkembang. Di sanalah peran penting dari para karyawan di tahap awal untuk membantu mengembalikan perusahaan ke ‘jalan’ yang benar.

  • Modal minim dan tim kecil tak jadi soal

Salah satu hal menarik bagi saya adalah saat mengetahui bahwa Shernaz Daver pernah bekerja di Netflix dari awal perusahaan tersebut berdiri. Saat itu, Netflix masih berupa toko DVD online yang masih bersaing ketat dengan Blockbuster. Shernaz banyak menceritakan bagaimana Netflix yang saat itu adalah perusahaan startup bermodal minim dengan tim yang sangat kecil, dan harus bersaing dengan Blockbuster yang saat itu memiliki ribuan outlet di US. Siapa yang sangka, Netflix saat ini menjadi perusahaan besar yang nilainya beda tipis dengan perusahaan entertainment sekaliber Disney.

Leonika Sari (CEO, Reblood) dan peserta Blackbox Connect 22 di sesi foto bersama Shernaz Daver (Executive Advisor, Google Ventures) | Dok: Leonika
  • Utamakan customer experience

Bergerak dalam bidang apapun bisnismu, pelanggan adalah raja. Saat masih berjualan DVD, Netflix segera mengirim ulang DVD yang dijual apabila terdapat keluhan dari pelanggan, walaupun mungkin saja hal tersebut terjadi karena kelalaian pelanggan itu sendiri. Hal ini menjadi salah satu nilai lebih untuk Netflix saat bersaing ketat dengan Blockbuster kala itu.

BACA JUGA:  Leonika Sari dari Reblood Siap Mewakili Indonesia di Silicon Valley dalam Ajang Blackbox Connect 22: Female Founders Edition
Categories: Tech & Startups