Mayoritas perusahaan startup pada umumnya mengalami permasalahan dalam keuangan yang belum stabil. Bahkan beberapa artikel yang ditulis oleh pendiri startup menuliskan pengalaman pribadi mereka dalam mengelola startup dan kesalahan-kesalahan pengaturan keuangan umum yang harus dihindari saat memulai sebuah bisnis.

Menyoroti kesalahan umum yang kerap dilakukan oleh para pendiri startup inilah 100 Day Startup Bootcamp mengundang Alyssa Maharani, mantan Google Launchpad Accelerator Manager yang kini menjabat sebagai Head of Startup Success Digitaraya Powered by Google Launchpad untuk memberikan materi pembelajaran mengenai ‘Finance, Bootstrapping, and Valuation’ dua minggu lalu (04/05) di iCentre Auditorium, Brunei. Bootstrapping merupakan proses mendirikan sebuah startup, tanpa ada bantuan pendanaan dari investor maupun venture capital, dan pilihan ini menjadi salah satu alternatif  yang seringkali digunakan para pendiri startup.

Bootstrapping merupakan pilihan yang sulit bagi startup karena tidak hanya harus mengatur cash flow dengan ketat, terutama di tahap awal perusahaan, melainkan juga membatasi gerak orang-orang yang berada di dalam perusahaan dan memaksa mereka untuk mengambil keputusan berdasarkan sumber daya yang terbatas.

Sesi tanya jawab antara Alyssa Maharani dan peserta | Dok: Pribadi

Ada beberapa hal yang membuat para pendiri startup mengambil strategi ini. Pertama, karena idealisme para pendiri startup, yang menginginkan kontrol sepenuhnya ada di tangan mereka, baik dalam hal menjalankan strategi bisnis, pengelolaan operasional, maupun anggaran. Hal lainnya, para pendiri startup “terpaksa” memilih strategi bootstrapping karena kondisi, yang mengharuskan mereka menggunakan modal terbatas karena belum masuk dalam kriteria startup yang diberi suntikan dana oleh venture capital. Itu sebabnya para pendiri startup harus menjalankan perusahaan secara mandiri tanpa bantuan eksternal, hingga akhirnya startup tersebut bisa mendapatkan investasi.

Startup-startup yang menjalankan strategi bootstrapping ini harus menjalankan keuangannya dengan sangat bijaksana, karena keuntungan usaha yang kecil ini menjadi satu-satunya modal yang mereka miliki untuk berkembang,” ungkap Alyssa saat menyampaikan materinya di depan 8 peserta, yang semuanya merupakan para pendiri startup.

Sisi baiknya, startup yang menjalankan strategi bootstrapping memiliki kecenderungan memiliki budaya perusahaan yang mementingkan kewajiban dibandingkan hak. “Namun sebagian besar perusahaan yang sukses mendanai dirinya sendiri pada suatu tahap harus mempertimbangkan untuk mencari investor,” lanjut Alyssa. Alasan untuk meningkatkan modal ini biasanya berkisar untuk mempercepat pertumbuhan perusahaan dan melawan ancaman kompetitif dari perusahaan lain. Keuntungannya selain dapat memberikan validasi pasar pada perusahaan startup dan menetapkan penilaian mereka, perusahaan startup bahkan berpotensi menawarkan likuiditas kepada karyawan-karyawan yang telah bergabung sejak tahapan awal.

BACA JUGA:  22 Mentor Global Dilibatkan dalam Google Lauchpad di Indonesia
Categories: Tech & Startups