Film Avengers: Infinity War belum hilang dari ingatan dan masih jadi perbincangan hangat. Seru ya, jika kita bisa jadi manusia super yang melawan musuh demi membela Bumi? Itu sebabnya, KokBisa menghadirkan kembali Antero Science Discussion untuk yang keempat kalinya di Jakarta, dengan tema “The Future Superhuman”, Sabtu (5/5) lalu di Menara by KIBAR lantai 2.

Antero Science Discussion kali ini membahas seputar kemungkinan-kemungkinan manusia memiliki kekuatan super di dunia nyata. Pemikiran ini muncul karena banyak dari film Hollywood yang menampilkan sosok pahlawan super, yang sebelumnya merupakan manusia biasa. Penyebab mereka menjadi pahlawan super bermacam-macam, seperti digigit hewan, tertimbun di bongkahan es, hingga menjadi uji coba lab. Sementara di dunia nyata sudah ada CRISPR yang merupakan teknologi rekayasa genetik pada bayi sehingga mengurangi risiko terkena penyakit turunan ataupun cacat. Kalau sekarang saja sudah ada ‘potensi’ kita melakukan rekayasa genetik, bukan tak mungkin CRISPR atau teknologi lain bisa dimanfaatkan untuk hal lainnya: seperti membuat kekuatan super untuk manusia.

Antero Science Discussion yang turut berkolaborasi dengan Pesta Pendidikan,DC Imaji, dan OMNI VR menghadirkan berbagai pembicara dari berbagai latar belakang, seperti Richard Sutejo, Ph.D (Head of Biomedicine i3L, Ph.D of Virology dari Nanyang Technological University, Singapura), Jaka Ady Saputra (Penulis Komik, Editor, dan Letterer untuk berbagai komik Indonesia), dan Shani Budi Pandita (Kreator Nusantaranger, Superhero Indonesia). Berkat tema dan pembahasannya yang sangat menarik, diskusi kali ini dibanjiri oleh hampir 90 peserta.

Dari kiri ke kanan: Richard Sutejo, Ph.D (Head of Biomedicine i3L, Ph.D of Virology dari Nanyang Technological University, Singapura), Jaka Ady Saputra (Penulis Komik, Editor, dan Letterer untuk berbagai komik Indonesia), dan Shani Budi Pandita (Kreator Nusantaranger, Superhero Indonesia) | Dok: KokBisa

Lalu, mungkin nggak sih, manusia memiliki kekuatan superpower seperti di film-film atau komik-komik yang telah akrab dalam kehidupan kita? Hal ini yang menjadi bahasan utama di panel diskusi pertama, “Can We Make Superhuman?” Jawabannya, mungkin saja, dengan mutasi genetic atau teknologi mutakhir. Namun menurut Richard Sutejo, Ph.D, ada hal-hal yang perlu dipertimbangkan saat akan memunculkan teknologi. Pertama, lingkungan. Kita harus melihat apakah ada makhluk hidup lain yang memiliki kekuatan serupa seperti yang kita inginkan. Jika memang ada, maka ilmu ini sebenarnya ada di cakrawala. “Pemograman untuk bisa memunculkan kekuatan super ini maka harus detil dan hati-hati,” ungkap Richard. Hal berikutnya yang perlu dipertimbangkan adalah energi. “Kita harus memikirkan berapa banyak energi yang dibutuhkan untuk memunculkan kekuatan super. Selain konfigurasi gen yang tepat, energi harus bisa menunjang kekuatan super yang ingin kita munculkan ini,” sambung Richard.

Diskusi kemudian dilanjutkan pada panel diskusi kedua yang membahas tentang “Gene Engineering”. Melihat banyaknya komik dan film superhero yang membahas mengenai mutasi genetika pastinya membuat penasaran, akankah hal ini bisa dilakukan juga di kehidupan nyata. Percobaan genetika pun awalnya muncul pada saat era biologi molukuler dan dilakukan demi kebaikan, seperti meningkatkan kualitas hidup manusia, dengan membasmi penyakit atau memperpanjang usia manusia. Lalu sejauh mana mutasi gen ini telah berkembang? Sesungguhnya tanpa kita sadari, mutasi gen terus berkembang secara acak, tanpa bisa diketahui oleh manusia. Sedangkan yang bisa dipantau adalah rekayasa genetika, seperti lentiviro, saat virus menginfeksi maka virus akan menyisipkan gen ke dalam tubuh manusia.

Di sela-sela diskusi pun diadakan polling mengenai “What Is Your Favorite Superpower?” yang diikuti oleh seluruh peserta yang hadir. Hasilnya pun mengejutkan! Ternyata mayoritas peserta ingin hidup kekal dan abadi (33.8%) diikuti dengan kemampuan teleportasi (22,1%), telekinesis (21,3%), telepati (11,8%), dan menyembuhkan luka (11%).

Penyerahan kenang-kenangan dari tim KokBisa kepada para pembicara | Dok: KokBisa

Diskusi kemudian dilanjutkan pada sesi diskusi panel ketiga dengan  tema “The Bad, The Good, and The Ugly”. Akan sangat baik jika kekuatan superhero yang dimiliki digunakan bagi kebaikan sesama umat manusia, namun tidak jarang pula kekuatan ini disalahgunakan atau malah merugikan keseimbangan ekosistem akibat munculnya organisme baru. Jadi sebelum melakukan mutasi gen untuk menjadi manusia super, sebaiknya dipertimbangkan dulu tujuannya untuk apa karena tentu akan berimbas banyak bagi bumi dan ekosistem di sekelilingnya, tak hanya positif melainkan juga negatif.

Foto bersama peserta ANTERO, terlihat memenuhi ROMBAK Event Space di Menara by KIBAR | Dok: KokBisa
BACA JUGA:  Kumpul Kreavi: Optimizing Digital Media for Creators
Categories: Creative Education