Jika kita menginginkan bumi yang layak huni di masa depan, kita perlu memperlambat dan menghentikan kenaikan suhu global. Untuk itu, kita harus berhenti membakar bahan bakar fosil untuk kebutuhan energi kita.

Saatnya untuk beralih kepenggunaan energi yang lebih hijau, termasuk untuk transportasi dan industri. Masalahnya, dunia modern yang sangat digital saat ini, tidak sekadar membutuhkan energi ramah lingkungan, namun juga menuntut jaringan yang dapat diandalkan. Artinya mampu menyediakan daya berkualitas tinggi secara konstan.

Sumber energi terbarukan seperti angin, air, dan matahari  tunduk terhadap jadwal alam. Sebagai contoh, energi matahari, jika mendung atau terhalang awan akan mengganggu pasokan listrik. Bayangkan jika aliran listrik yang tidak dapat diandalkan digunakan untuk fasilitas seperti rumah sakit atau pusat data. Fasilitas seperti ini sangat penting mendapatkan aliran atau jaringan listrik yang andal sebab pemadaman yang singkat bisa mengakibatkan kerugian besar, hingga mengancam nyawa seseorang.

Nicole Yap (VP Strategy, Digitaraya) membuka Energy Meetup yang Pertama | Dok: Menara by KIBAR

“Dibutuhkan teknologi yang yang berkaitan dengan cuaca. Energi solar kalau ada awan ia berhenti, kalau angin, nggak ada angin berhenti. Makanya harus diawasi cuacanya agar aliran energinya konstan. Smart grid solution mengatur lebih baik aliran listrik,”ujar Ir. Eddie Widiono, MM., M.Sc (Founder & Chief Advisor, Prakarsa Jaringan Cerdas Indonesia) dalam acara Meetup Energy yang diselenggarakan oleh Digitaraya dan New Energy Nexus SEA di Rombak Event Space, Menara by Kibar, Jakarta, beberapa maktu lalu.

Energy Meetup yang diselenggarakan Digitaraya bekerja sama dengan New Energy Nexus SEA diselenggarakan dalam upaya mendorong solusi untuk isu energi di Indonesia. Untuk itu, Digitaraya bekerja sama dengan New Energy Nexus SEA membuat program-program yang fokus pada pembahasan mengenai energi, dan memberikan dukungan terhadap para pendiri startup di bidang energi dalam bentuk akses ke mentor, data, serta dukungan pakar.

BACA JUGA:  Mengurai Langkah Transformasi Digital di Sektor Pariwisata dalam Fintech Connect 3

Dunia telah bergerak ke arah energi terbarukan, bahkan perusahaan besar seperti Google, Apple, dan Tesla, menunjukan komitmen ini dengan jelas sejak beberapa tahun lalu.

Krisis energi dan pengolahan energi di Indonesia

Peningkatan populasi  di negara ini, serta peningkatan produksi industri akan menuntut peningkatan permintaan gas dan batubara dari sektor listrik. Dengan konsumsi energi saat ini, diperkirakan Indonesia akan menjadi gas net importer pada tahun 2022. Dengan harga gas dan batubara yang ditentukan oleh pasar, jika harga dipasaran naik, tentu akan menjadi beban negara.

Dengan prediksi seperti itu, mau tak mau kita sudah harus beralih ke energi terbarukan. Sebab ketahanan energi kita makin merosot.”Kalau tidak ada usaha signifikan untuk menemukan cadangan batubara baru, mengurangi ekspor batubara hingga meningkatkan kontribusi energi terbarukan kita akan menjadi coal net importer pada tahun 2046,” ulas Paul Batubara (Managing Director, JJB Sustainergy Indonesia).

Menurut Paul, selain ketahanan energi yang menjadi permasalahan utama negeri ini, selanjutnya adalah akses energi. Meningkatkan rasio elektrifikasi juga menjadi isu yang signifikan dan terjadi ketimpangan. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pada Desember tahun 2017, rasio elektrifikasi Indonesia telah mencapai 94,91 persen, melebihi target yang ditetapkan pemerintah yakni sebesar 92,75%.

Pemenuhan akses listrik di wilayah terluar pulau Indonesia dan daerah pedalaman akan sangat mahal. Oleh karena itu perlu pemanfaatan sumber energi lokal. Khusunya energi terbarukan. Energi terbarukan juga akan membantu komitmen pemerintah untuk menurunkan emisi pada tahun 2020 sebanyak 29 persen.

Atiek Puspa Fadhilah (Advisor of Renewable Energy and Rural Electrification, GIZ) memaparkan pengalamannya. “Saat saya mulai di Sulawesi Tengah angkanya 78 persen sudah terlistriki. Tapi saat saya di sana, hanya dapat listrik dua hari, dari tujuh hari. Ketika kita yang 24 jam dapat listrik dan yang cuma enam jam juga sudah dibilang terlekrifikasi, ada yang salah.”

BACA JUGA:  Yansen Kamto: Pejuang Seribu Teknopreneur

Atiek juga menilai pemerintah tidak tinggal diam. Pemerintah mengambil inisiatif dengan menambah kapasitas pembangkit, menambah jaringan transmisi, dan penambahan kapasitas gardu induk. Selain itu, beberapa inisiatif juga dilakukan oleh instansi lain, seperti LIPI yang mengembangkan riset teknologi microgrid untuk memenuhi kebutuhan listrik di skala lokal, dan mencoba untuk mengatasi keterbatasan pada akses listrik di pelosok Indonesia.

Microgrid bisa menjadi solusi bagi Indonesia

Saat ini di Indonesia, 90 persen lebih sumber energi di Indonesia masih bersumber dari energi kotor. Hanya kurang dari 10 persen berasal dari energi terbarukan, cukup miris mengingat Indonesia dikaruniai sumber energi terbarukan yang berlimpah.

Selain masalah sumber energi, masalah lain di Indonesia adalah tidak meratanya penyebaran listrik. Indonesia menggunakan sistem sentralisasi, padahal sebagai negara kepulauan dengan jumlah pulau lebih dari 16 ribu, sistem desentralisasi bisa menjadi solusi.

Dari kiri ke kanan: Atiek Puspa F. (Advisor for Renewable Energy and Rural Electrification, GIZ), Ir. Eddie Widiono, MM.M.Sc. (Founder & Chief Advisor, Prakarsa Jaringan Cerdas Indonesia), Vikalp Sabhlok (Investment Specialist, Global Green Growth Institute), dan Paul Butarbutar (Managing Director, JJB Sustainergy Indonesia)  | Dok: Menara by KIBAR.

Vikalp Sabhlok (Investment Specialis Global Green Growth Institute), menunjukkan bahwa sektor industri digital bisa membawa solusi yang membantu Indonesia mampu menerapkan sistem micro grid. Sebagai catatan, micro grid adalah sistem sumber tenaga yang tersebar di berbagai wilayah, dan bisa beroperasi secara independen dari sumber listrik utama.

Tetapi, apa keuntungan microgrid dibanding sistem konvensional yang terpusat? Vikalp menyebutkan beberapa: seperti sistem yang digital dibanding dengan analog, berfokus pada konsumen dibanding pada infrastruktur, lebih tahan gangguan karena jika sistem utama sedang rusak, grid-grid mikro itu masih bisa bekerja, dan tentu saja lebih rendah emisi karbonnya.

“Untuk Indonesia, kemajuan industri digital telah membawa peluang bagi Indonesia menerapkan sistem micro grid. Mulai dari segi hardware, software maupun end-consumer,” jelasnya.

Misalnya dari segi hardware, kini sudah ada smart meters, smart retrofit yang bisa digunakan untuk bangunan yang sudah berdiri, atap solar panel, dan lain-lain. Dari sisi software juga sudah mendukung, misalnya data collection dan analytic, sistem monitoring atap solar panel untuk konsumen, sistem manajemen gedung, dan lain-lain.

BACA JUGA:  Fintech Connect Episode 8: Closing The Underinsurance Gap | Asuransi Digital Perluas Akses, Tingkatkan Efisiensi dan Transaksi

Originally posted on Recap.id.

Categories: Tech & Startups