Total jumlah penduduk yang ada di dunia pada tahun 2017 lalu sudah mencapai sebanyak 7,6 milliar jiwa, berdasarkan data yang dihimpun oleh PBB. Jumlah ini diprediksi akan terus mengalami peningkatan, di mana pada tahun 2050 diperkirakan jumlah penduduk di dunia akan mencapai angka 9,8 milliar. Jika hal tersebut terus dibiarkan tentu saja bumi akan mencapai kondisi overpopulated. Hal ini dikarenakan terus bertambahnya makhluk hidup, namun tidak diiringi dengan sumber daya yang dibutuhkan untuk bertahan hidup.

Dihadapkan dengan kemungkinan overpopulation, berbagai terobosan baru yang mungkin dilakukan mulai bermunculan sebagai solusi. Salah satu upaya yang cukup ekstrem adalah mengupayakan untuk memindahkan koloni kehidupan manusia dari bumi ke planet lain di luar angkasa. Salah satu planet yang terdekat dan sekiranya paling memungkinkan adalah planet Mars. Didukung dengan semakin canggihnya perkembangan teknologi, semakin besar pula harapan manusia untuk mewujudkan upaya memindahkan koloni manusia dari Bumi ke Mars dengan memanfaatkan teknologi yang ada.

Memperagakan cara penggunaan teleskop oleh teman-teman dari Penjelajah Langit | Dok: Antero

Membangun koloni kehidupan di planet Mars ini memicu perdebatan dan berbagai pertanyaan menarik sekaligus menantang. Dimulai dari bagaimana cara untuk melakukan space travel dari Bumi ke Mars untuk melakukan migrasi tersebut, lalu muncul lagi pertanyaan bagaimana dan apa saja tantangannya untuk menduplikasi kondisi Bumi di Mars sehingga dapat menjadi tempat tinggal makhluk hidup, khususnya manusia. Pertanyaan berikutnya tentang apa saja tantangan yang harus dihadapi agar manusia dapat bertahan hidup tanpa merusak ekosistem yang sudah ada di Mars pun juga muncul. Hal-hal tersebut yang kemudian menjadi topik yang hangat diperbincangkan di Antero Science Discussion Yogyakarta chapter #1 dengan tema “Mars Colonized by Us?” yang diadakan di Convention Hall lantai 4 FISIPOL Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 17 April lalu.

Dari kiri ke kanan: Eko Hadi G. (Founder Penjelajah Langit), Nugroho Imam (Dosen Geologi UGM), dan Faiz Rahman (Co-Founder Nous ID). | Dok: Antero

Melibatkan berbagai komunitas dan tim yang memiliki ketertarikan besar pada dunia edukasi dan digital di Yogyakarta, seperti Nous ID, Center for Digital Society UGM, dan Penjelajah Langit, acara ini menghadirkan pembicara-pembicara yang menjadi perwakilan, yaitu Eko Hadi G. (Founder Penjelajah Langit), Faiz Rahman (Co-Founder Nous ID), dan Nugroho Imam (Dosen Geologi UGM). Sekitar 50 peserta memenuhi Convention Hall dan diskusi meliputi berbagai aspek, mulai dari teknologi hingga masyarakat. Melalui diskusi ini diharapkan para pesertanya dapat menambah cakrawala pengetahuan terkait perkembangan teknologi dan alam semesta yang ada dewasa ini. Acara kemudian dilanjutkan dengan networking antara para pembicara dengan seluruh peserta yang hadir.

Sesi foto bersama dalam Antero yang diselenggarakan di Universitas Gadjah Mada | Dok: Antero

Buat komunitas-komunitas sains lainnya di berbagai kota di Indonesia, kamu juga bisa lho mengadakan ANTERO Science Discussion! Hubungi kami via Instagram @anteroid dan dapatkan informasi seru seputar diskusi di sana. Yuk #ThinkBeyond bersama KokBisa!

 

Categories: Education