Sebagai ranah yang didominasi laki-laki, industri digital sangat jarang melahirkan pemimpin-pemimpin perempuan yang berpengaruh di bidangnya. Padahal, industri digital menuntut terciptanya inovasi terus-menerus dalam waktu yang relatif cepat.

Dan untuk menciptakan inovasi, dibutuhkan kolaborasi yang didukung oleh keberagaman ide dan keahlian, baik dari laki-laki maupun perempuan.

Agar lahir berbagai solusi berbasis teknologi yang berdampak bagi masyarakat, perlu lebih banyak panutan yang tampil untuk menginspirasi generasi penerus para perempuan pemimpin di industri digital Indonesia.

Oleh karena itu, Digitaraya, sebuah inkubator startup digital, Recap.id, dan didukung oleh detikINET, mempersembahkan profil para perempuan muda terpilih yang berkontribusi di industri digital Indonesia.

Mereka adalah para perempuan muda yang berdaya, visioner, serta memiliki semangat tinggi untuk mengibarkan nama Indonesia melalui teknologi digital. Mereka terdiri dari community leaders, mentor, investor hingga perempuan yang berada di puncak pimpinan perusahaan digital.

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, sekaligus menghargai jasa dan pengorbanan beliau, kita ingin semangat untuk menciptakan solusi dan berinovasi ini terus-menerus digaungkan agar dapat menginspirasi lebih banyak orang.

1. Metha Trisnawati

Metha Trisnawati | Foto: Istimewa

Lulusan S-1 University of Manchester, Business And Management, Metha Trisnawati adalah co-founder sekaligus CEO Sayurbox. Startup yang bergerak dibidang agrikultur. Sayurbox menghubungkan produsen sayur (petani) dengan konsumen tanpa ada campur tangan distributor. Dengan begitu petani mendapatkan harga yang lebih baik.

Ide inovatif ini telah mengakuisisi sekitar 9.000 konsumen dan kurang lebih 22 mitra petani maupun produsen lokal. Dan tim ini 80% berbasis perempuan yang menyukai dunia cocok tanam. Sayurbox adalah pemenang “Seedstars World Jakarta 2017”.

2. Leonika Sari

Leonika Sari | Foto: Istimewa

Founder Reblood yang merupakan lulusan Sistem Informasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya ini, tak ingin ada lagi orang Indonesia yang tidak tertolong akibat dari kurangnya kantung darah. Ia menciptakan aplikasi Reblood, aplikasi yang membantu masyarakat menemukan kegiatan donor darah terdekat. Leo juga kerap berkampanye hidup sehat kepada anak-anak muda, dengan menjadikan donor darah sebagai kegiatan rutin.

Semangatnya membuat ia banyak menginspirasi perempuan muda di sekitarnya. Ia pun terpilih sebagai 16 Startup terbaik versi koran Tempo dan Forbes Asia 30 Under 30, 2016 . Aplikasi Reblood sudah diunduh sebanyak 10.000+ di Google Play Store.

3. Mesty Ariotedjo

Mesty Ariotedjo | Foto: Istimewa

Sebagai seorang dokter ia sering menemui pasien yang kesulitan akses ketika berobat. Berangkat dari pemahaman itu, Mesty Ariotedjo mendirikan WeCare.id, sebuah situs web yang dibangun khusus untuk mengumpulkan dana bagi pasien-pasien di daerah terpencil.

Ia mempunyai tekad bahwa dirinya tak hanya menyembuhkan, tetapi juga terjun langsung memperbaiki sistem kesehatan yang telah berjalan. Pantas saja Forbes memasukkan nama Mesty sebagai salah satu kandidat perempuan muda yang menginspirasi.

4. Teti Sianipar

Tety Sianipar | Foto: Istimewa

Peduli dengan kondisi penyandang disabilitas yang kesulitan dalam mencari pekerjaan meski mereka memiliki keterampilan, mendorong Tety untuk mendirikan Kerjabilitas, sebuah jaringan sosial dalam bidang karier yang menjadi portal job bagi penyandang disabilitas. Kerjabilitas termasuk startup yang terpilih meNgikuti Google Launchpad Accelerator tahun 2016 dan juga program Jolkona Catalyst di Seattle.

5. Dayu Dara

Dayu Dara | Dok: Recap

Dayu Dara adalah salah satu pendiri dari Go-Life yang berorientasi sebagai gaya hidup. Terutama dalam area layanan Go-Clean, Go-Glam dan Go-Massage. Dayu melihat Go-jek di masa depan sebagai layanan bagi masyarakat yang hidup di perkotaan yang akan memudahkan hidup mereka.

Sebagai perempuan, Dayu percaya tidak pernah berhenti belajar dan memberikan lebih dalam setiap bidang, merupakan kunci kesuksesan dalam membangun jenjang karier yang lebih baik. Hal tersebut dibuktikan dalam waktu sebulan mereka telah meraih 5.000 orang mitra bisnis dan mengalami pertumbuhan signifikan sebanyak 30-40 persen setiap bulannya. Ia pun masuk ke dalam 10 Inspiring Women Forbes Indonesia di tahun 2017.

BACA JUGA:  Malas Antre ke Bengkel, Pesan Antrean Melalui Olride Aja, Tak Ribet dan Tak Menyesal

6. Azalea Ayuningtyas

Azalea Ayuningtyas | Foto: Istimewa

Azalea meninggalkan segala kenyamanan ketika berada di Boston dan bergabung bersama 6 orang temannya, untuk membangun wirausaha di Flores. Dengan latar belakang perduli akan masalah malnutrisi serius yang diidap oleh para ibu dan anak-anak di Flores, Nusa Tenggara Timur. Menggunakan sarana dari daun lontar untuk dijadikan sebuah karya anyaman tanpa melupakan ciri khas tradisionalnya, kini Du’Anyam menghasilkan tas, sepatu, dan beragam suvenir serta produk kerajinan lainnya.

Usaha keras ini membuahkan hasil, startupnya memenangkan berbagai kompetisi kewirausahaan sosial, seperti MIT Global Ideas Challenge 2014, UnLtd Indonesia Incubation profram 2014-2016, Global Social Venture Competition 2015, serta mendapatkan dana hibah dari Tanoto Foundation. Dan Du’Anyam tidak berhenti hingga di situ saja karena mereka terus akan melebarkan sayap serta mencari berbagai peluang yang ada.

7. Ellen Nio

Ellen Nio | Foto: Istimewa

Berkat kegemarannya mengutak-atik komputer dan bermain game sejak kecil, Ia pun memilih jurusan Informatika Universitas Pelita Harapan pada tahun 2010. Kemudian ia mendapatkan beasiswa dari Global IT Scholarship Student untuk melanjutkan pendidikan di Kyungsug University.

Awal kariernya bermula pada awal tahun 2016, ia berkesempatan untuk mengoordinasi Jakarta Smart City. Sekarang, Ellen memimpin inisiatif investasi Patamar Capital untuk berinvestasi pada startup yang didirikan oleh perempuan. di Indonesia. Saat ini Patamar Capital, telah berinvestasi di startup Sayurbox, Panen.id, Ladang Lima, dan Hello Sunshine.

8. Putry Yuli

Putry Yuli | Foto: Istimewa

Co-Founder dan Chief Executive Officer (CEO) Kostoom, Putri Yuli, mengaku terinspirasi membuat bisnis jasa layanan jahit online saat melihat realita kehidupan penjahit rumahan di era digital. Lahir dari seorang ibu yang berprofesi sebagai penjahit, Putri berempati melihat kecilnya upah yang didapat penjahit rumahan. Dengan Koostoom ia berharap penjahit di Indonesia bisa berdaya, jadi tidak ada lagi keterbatasan biaya dan pengetahuan yang dialami para penjahit.

Kostoom juga termasuk startup yang sering memenangkan kompesitisi antara lain Pemenang “Seedstars World Jakarta 2016”. Juara dua di kompetisi Spica Runway. Terpilih sebagai startup yang mengikuti SXSW 2017 dan juga terpilih mengikuti kompetisi Startup 100 di startup Istanbul.

9. Crystal Widjaja

Crystal Widjaja | Foto: Istimewa

Dara berusia 26 tahun ini memasuki ranah bisnis yang kebanyakan didominasi oleh pria. Dan dia mampu mengolah berbagai macam tantangan dan situasi yang ada di lapangan hingga membuat Gojek menjadi layanan yang berkembang pesat, yang kita nikmati hingga hari ini di 50 kota. Kepiawaianya dalam mengolah data hingga bekerja sama dengan divisi lain semakin memperkuat posisi Gojek dalam memberikan layanan bagi masyarakat luas.

Dengan background pendidikan University of California, Berkeley, jurusan Metode Empiris dan pengalamannya bekerja di beberapa startup di California, Crystal paham betul akan ekosistem startup hingga mendalami riset tentang ekosistem modal ventura, merger hingga akuisisi.

10. Anne Regina

Anne Regina | Foto: Istimewa

Wanita juga bisa menjadi seorang IT profesional, bukan hanya laki-laki. Dengan latar belakang pendidikan IT dan aktif mengembangkan komunitas IT untuk para perempuan yaitu Femalegeek. Kini, Anna Regina menjadi engineer manager Bukalapak.

Sebagai Engineer Manager di Bukalapak, Anne punya harapan bisa memberdayakan usaha di tiap pelosok Indonesia dan juga membuat stereotipe bahwa perempuan bisa serta mampu memberikan solusi dan mempunyai kekuatan di bidangnya masing-masing.

11. Vina Zerlina

Vina Zerlina | Foto: Istimewa

Perempuan yang mempunyai pengalaman bekerja sebagai UX Designer di market place terkemuka di dunia, yaitu Amazon.com memutuskan dirinya untuk “pulang kampung” ke negara aslinya, Indonesia.

Meski harus meninggalkan segala fasilitas dan kenyamanan, ini menjadi pilihannya karena ia ingin berkontribusi dan mengembangkan komunitas startup di Indonesia dan pengembangan produk secara umumnya. Ia mempunyai harapan, Indonesia bisa menjadi pemain startup skala global.

BACA JUGA:  Leonika Sari Njoto Boedioetomo - Aplikasi Donor Darah Reblood

12. Alyssa Maharani

Alyssa Maharani | Foto: Istimewa

Latar belakang pendidikannya di Wharton School, membawa Alyssa kepada jenjang yang lebih tinggi sebagai Launchpad Accelerator Startup Success Manager di Google. Kini ia bergabung di Digitaraya sebagai Head of Startup Success. Alyssa sedang merancang program inkubasi tahap lanjutan untuk startup yang sudah berkembang, memberikan dana & mentoring kepada startup yang berpotensi, serta menulis buku mengenai dunia startup ecosystem di Indonesia. Ia juga sedang menulis buku tentang ekosistem startup di Indonesia.

Menurut Alyssa pekerjaan menjadi startup founder adalah salah satu pekerjaan paling sulit di dunia bisnis. Maka, sudah layaknya kita semua mulai dari dari sektor swasta, non-profit, maupun pemerintah memberi dukungan bagi innovator & entrepreneurs. Dampak dari sokongan tersebut yang paling nyata adalah terciptanya banyak lapangan kerja baru.

13. Dina Dellyana

Dina Dellyana | Foto: Istimewa

Dina Dellyana (34 tahun) lebih dikenal sebagai anggota band indie electronic terkemuka di Indonesia yaitu HMGNC. Selain nge-band, ia juga aktif mengajar di SBM ITB dan menjabat sebagai Direktur Inkubator dan Bisnis ITB. Sebagai musisi yang juga akademisi, ia selalu menganggap mahasiswa sebagai teman, bukan murid.

Ia membuktikan bahwa perempuan dapat menjadi apa saja yang ia cita-citakan. Ia memiliki harapan untuk terus mengembangkan jiwa entrepreneur dan kreativitas mulai dari mahasiswanya hingga orang sekitar. Ia juga seorang serial-entrepreneur yang membangun glintzshoes.com dan Apotek Mandiri Farma.

14. Dina Kosasih

Dina Kosasih | Foto: Istimewa

Berawal dari sebuah tantangan untuk membuat sebuah bisnis di sebuah space yang tidak terpakai, Dina dan kakaknya Danny Kosasih mencari-cari bisnis apa yang akan sustainable ke depannya. Saat melakukan riset, akhirnya Dinna mengenal Maker Movement yang sebelumnya sudah lumayan dikenal di Singapura, sebuah tren di mana orang mulai menciptakan Do-It-Yourself produk dari barang-barang bekas.

Dari situlah tercetus ide untuk membuat MakeDonia, sebuah platform kolaborasi bagi para penggiat dan pencinta produk DIY. Setelah menjalani MakeDonia, ia mengajak banyak komunitas untuk berkreasi secara langsung, akhirnya Dina menemukan masalah besar yaitu ekosistem inovasi Indonesia yang belum mumpuni. Sekarang ditambah pula dengan edukasi dan pembangunan kapasitas yang bertujuan membangun ekosistem inovasi di Indonesia.

15. Cindy Lailani

Cindy Lailani | Foto: Istimewa

Awalnya Cindy mengaku tidak mengerti banyak mengenai dunia co-working dan dunia startup, bahkan sebelum dia tercemplung ke dunia ini, dalam tahap interview dengan sebuah hotel bintang lima yang menawarkan jabatan sebagai Public Relations.

Sebagai community dan space manager Clapham, Cindy akhirnya merasa disadarkan kembali bahwa selama ini dia memang selalu ingin melakukan sesuatu untuk Kota Medan. Ke depannya Cindy selalu berharap untuk terus memberikan yang terbaik kepada semua member Clapham. Pada Juli 2017 terpilih “International Visitor Leadership Program” dari Kedutaan Besar AS, yang berfokus pada entrepreneurship incubators.

16. Ken Ratri

Ken Ratri | Foto: Istimewa

Jatuh bangun di dalam dunia startup sudah dialami oleh Ken Ratri, beberapa nama startup seperti Don Company, CosMo (Custom Mosaic) sebuah startup mozaik foto, dilanjutkan dengan clothing line bernama Drama Queen, kemudian Ngubek.com sebuah directory listing khusus di daerah Bandung, dan juga menjadi salah satu co-founder inkubasi startup asal Denmark yang berlokasi di Bali adalah bisnis-bisnis yang pernah Ken bangun dan gagal.

Ken menjadikan kegagalan batu loncatan. Akhirnya dia membangun GeekHunter, sebuat startup penyedia programmer atau talenta IT bagi perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang teknologi atau IT. Geekhunter sekarang memiliki sebanyak lebih dari 18 ribu database programmer.

17. Geraldine Oetama

Geraldine Oetama | Foto: Istimewa

Geraldine Oetama adalah Partner Skystar Ventures, sebuah inkubator startup di bawah naungan KG (Kompas Gramedia). Geraldine memahami bahwa salah satu masalah terbesar di Indonesia adalah jumlah entrepreneur yang masih rendah, hanya sekitar 2 persen.

BACA JUGA:  Perkuat Ekosistem Digital, Google Kolaborasi dengan KIBAR

Menurut perempuan muda berusia 28 tahún ini, Skystar Ventures pada dasarnya adalah program yang memberikan training, fasilitas kerja, dan mentoring kepada calon entrepreneur. Prestasi yang diraihnya antara lain ICSB Presidential Award 2017. Inkubator terbaik di Accelerate Network 2016. Portofolio Skystar Ventures juga tak sebatas startup Indonesia saja seperti Adskom dan Bridestory. Skystar juga turut berinvestasi di Carro, Coffee meets Bagel, Ekrut, etobee, dan Grab.

18. Stephanie Yoe

Stephanie Yoe | Foto: Istimewa

Stephanie Yoe sudah malang melintang di dunia startup. Dia pernah mendirikan Jakarta City Life, Appstrak, Hingga menjadi Business Development Manager – Intrapreneur di Blibli.com.

Perannya kini di Fenox Venture Capital sebagai Venture Partner sangat penting dalam mendukung kiprah anak muda yang ingin berkecimpung di dunia startup. Fenox Venture Capital, yang berbasis di Silicon Valley ini gencar memberi dana untuk startup-startup yang mereka anggap bagus dan menawarkan ide yang disruptive.

19. Gita Savitri

Gita Savitri | Foto: Istimewa

Gita mengaku bahwa niatnya untuk berkecimpung di dunia media sosial itu murni karena ingin mendorong anak muda Indonesia supaya terbuka pikirannya. Karena menurutnya, anak muda jaman sekarang itu cenderung tidak berpikir panjang mengenai hidupnya, sekadar seru-seruan dan dipenuhi hal materialistik.

Pada 2017, Gita Savitri terpilih jadi satu-satunya YouTuber wanita Indonesia untuk program YouTube Creator for Change, sebuah program dari YouTube untuk memerangi hate speech, xenophobia, extremism, dan isu-isu sosial lainnya dengan membuat konten positif. Gita juga menulis buku berjudul “Rentang Kisah”Sekarang Gita tengah menyelesaikan studi S2 jurusan Kimia di Jerman sembari terus menginspirasi anak muda di Indonesia melalui konten di channel YouTube dan Instagram miliknya.

20. Monica Carolina

Monica Carolina | Foto: Istimewa

Bermain game seringkali dianggap sebelah mata, namun tak banyak yang mengerti bahwa hobi ini juga bisa menjadi karier dengan pendapatan yang mengiurkan. Monica Carolina yang lebih dikenal dengan nama Nixia contohnya. Ia adalah gamer profesional sejak tahun 2008. Ia kerap mengikuti turnamen game baik dari dari dalam mau pun luar negeri. Selain sebagai gamer, ia mulai blogging mengulas tentang gadget serta menjadi moderator forum game. Ini yang menjadi cikal bakal lahirnya NixiaGamer. Ia juga pelopor NXA ladies yang berisi kumpulan perempuan gamer tahun 2011 yang berambisi mengikuti berbagai turnamen.

Tim NXA Ladies saat ini memiliki tiga divisi game, yaitu Overwatch, Counter Strike: Global Offensive, dan game mobile yaitu Mobile Legends serta Arena of Valor (AOV) yang didirikan pada Oktober 2017. Prestasi yang tercatat sejauh ini juga cukup hebat, Juara dua Guitar Hero Tournament di kualifikasi World Cyber Games 2009, Jakarta. Juara satu Guitar Hero Tournament di Hotgame FKI 2010, Jakarta. Juara satu Call of Duty 4 Hotgame Tournament di Indonesia Games Festival 2012, Jakarta Convention Center. Peringkat empat Battlefield 3 GamersPlatoon Asia-Europe Tournament. Juara satu 1vs1 Counter Strike: GO ASUS Challenge Session 4.

21. Diajeng Lestari

Diajeng Lestari | Foto: Istimewa

Diajeng Lestari lulusan sarjana Ilmu Sosial dan Politik dari Universitas Indonesia. Terinspirasi dari matakuliah ‘Manajemen Perubahan’, ia lalu mendirikan Hijup. Ia ingin berbuat sesuatu yang berdampak bagi masayarakat. Sebagai CEO Hijup, Diajeng telah membuktikan bahwa Hijup sudah menjadi rumah bagi ratusan merek lokal Indonesia. Saat ini memberdayakan ribuan orang, dan sudah menjual produknya hingga ke manca negara.

Fashion bagi Diajeng bukan tentang kontes kecantikan, tapi tentang karakter, aspirasi dan inspirasi orang. Busana Islam membawa aspek-aspek itu bersama dengan kedewasaan spiritual dan kecantikan batin. Selain telah membawa Hijup menjadi e-commerce fashion muslim yang besar, Diajeng sendiri terdaftar dalam “Islamica 500” sebagai salah satu pemimpin bisnis terkemuka yang membentuk ekonomi dan pasar Islam.

Originally posted on: detikINET.

Categories: Tech & Startups