Asuransi adalah salah satu praktik bisnis konvensional dengan regulasi ketat yang mengikatnya. Pemegang kepentingannya biasanya memiliki aktuaris, atau individu yang ahli dalam ilmu tentang pengelolaan risiko keuangan, untuk memastikan perusahaan mendapatkan keuntungan. Proses tradisional ini membutuhkan waktu dan keahlian yang menyebabkan para pengguna harus merogoh kocek lebih dalam untuk sebuah produk asuransi.

Layaknya fintech, insuretech juga dianggap mampu memberikan efisiensi dan mendisrupsi praktik bisnis tradisional ini, sehingga dapat menciptakan model-model bisnis baru untuk memecahkan permasalahan yang pada akhirnya memudahkan masyarakat untuk memilih dan mendapatkan produk asuransi. Inovasi yang berbasiskan teknologi seperti menggunakan internet, big data, artificial intelligence, cloud computing, media sosial, dan lainnya, dapat mentransformasi cara sebuah produk asuransi ditawarkan dan dijual. Berangkat dari hal tersebut, Digitaraya dan Recap.id kembali mengadakan diskusi Fintech Connect bertemakan “Closing The Underinsurance Gap”, Rabu (11/04) lalu di Rombak Event Space, Menara by KIBAR.

Nicole Yap (VP, Digitaraya) membuka kegiatan Fintech Connect ke-8 sekaligus memberikan wawasan seputar perkembangan bidang asuransi dalam “Recap Ten” | Dok: Menara by KIBAR

Diawali dengan sesi “Recap Ten”, pemanasan selama sepuluh menit yang dipandu oleh Nicole Yap (VP, Digitaraya) untuk menjelaskan inti dari acara Fintech Connect episode 8 kali ini dan juga rangkuman isu terkini yang relevan dengan topik yang akan disajikan. Sesi diskusi yang dimoderatori oleh Octa Ramayana (Head of Research, Digitaraya) menghadirkan para pembicara yang merupakan pemain yang terlibat langsung dalam industri asuransi, seperti Wahyudin Bagenda (Direktur IT, BPJS Kesehatan), Andreas Resha (VP Insurance, Cermati), dan Yuda Wirawan (CMO, Jagadiri) memaparkan permasalahan pasar yang belum terdefinisikan dengan tepat.

Dari kiri ke kanan: Wahyudin Bagenda (Direktur IT, BPJS Kesehatan), Andreas Resha (VP Insurance, Cermati), Yuda Wirawan (CMO, Jagadiri), dan Octa Ramayana (Head of Research, Digitaraya) | Dok: Menara by KIBAR

Perusahaan asuransi individu hingga saat ini jumlahnya masih kurang dari 10 persen penduduk Indonesia. Hal itu dikarenakan persepsi orang Indonesia terhadap asuransi masih dirasakan sebagai beban. Akibatnya industri ini dikenal konvensional dan para pemainnya pun enggan terbuka dengan para pegiat startup digital. “Awareness masyarakat Indonesia terhadap pentingnya asuransi masih rendah. Itu sebabnya strategi industri asuransi berusaha mengiming-imingi konsumennya dengan pengembalian uang premi, padahal seharusnya bukan itu konsepnya. Tugas kita sekarang bagaimana bisa mengubah perilaku masyarakat dan bagaimana teknologi dapat menjadi solusi dari permasalahan ini?” ungkap Yuda Wirawan.

 BPJS Kesehatan yang hadir sebagai game changer ekosistem health care di Indonesia kini mulai mendorong layanan kesehatan melalui digital. “Hal ini akan menumbuhkan peluang-peluang bisnis. Industri kesehatan ini sangat besar dan belum kita garap secara maksimal,” tutur Wahyudin Bagenda. Senada dengan hal tersebut, Andreas Rhesa pun merasa masih perlu adanya pemain yang meramaikan sektor industri asuransi, yang tentunya tidak dapat hanya dilakukan oleh beberapa perusahaan, tetapi harus didukung oleh banyak pelaku di banyak sektor industri. “Kita harus ciptakan edukasi finansial yang luas bagi masyarakat Indonesia dan juga mendorong lebih banyak lagi perusahaan startup untuk terlibat.” ujarnya.

Foto bersama pembicara dan peserta Fintech Connect edisi ke-8 | Dok: Menara by KIBAR
BACA JUGA:  Dua Startup Indonesia Diboyong ke Markas Google
Categories: Tech & Startups