Energi merupakan salah satu permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia. Sektor teknologi dan sektor startup digital yang kini sedang berkembang di Indonesia, diharapkan bisa membantu memecahkan masalah ini.

Ketahanan energi di Indonesia dalam kondisi yang terus merosot. Ironinya Indonesia merupakan negara dengan sumber energi terbesar di ASEAN. Sebut saja geothermal dan air. Indonesia memiliki cadangan panas bumi terbesar di dunia. Cadangan geothermal Indonesia berjumlah ± 29 Giga Watt (GW) atau setara dengan 40 persen dari total cadangan dunia. Saat ini bidang geotermal yang baru dikembangkan adalah sekitar 1.699 MW atau sekitar 6 persen dari total cadangan Indonesia.

Fakta ini, berbanding terbalik dari kenyataan berdasarkan data yang dirilis Dewan Energi Dunia, Indonesia berada di peringkat ke-69 dari 129 negara.

Berangkat dari pemahaman tersebut, pada hari ini (04/04), Digitaraya dan New Energy Nexus SEA mengumumkan kerja sama dengan tujuan melahirkan startup di bidang energi, sekaligus edukasi seputar Smart Energy. Upaya ini diharapkan bisa membangkitkan kesadaran anak muda untuk turut menelurkan solusi terkait masalah ini.

Dalam konferensi pers yang digelar di ROMBAK Event Space, Menara by KIBAR, Jakarta, juga mengelar diskusi terkait tantangan, potensi, hingga kesiapan transformasi Indonesia ke energi cerdas. Panelis diskusi terdiri dari Stanley Ng (Program Manager, Nexus SEA), Nicole Yap (VP Strategy, Digitaraya), Agus Sari (CEO, Landscape Solar), Paul Butarbutar (Director Green Finance Asia, South Pole Group), dan Octa Ramayana (Head of Research, Digitaraya) bertindak sebagai moderator.

“Ada satu keyakinan bahwa fossil energy itu sudah ditinggalkan. Sudah saatnya kita memikirkan apa yang akan kita lakukan jika fossil energy sudah habis. Semua ekosistem kelembagaan di Indonesia harus embrace sistem energi yang baru,” ujar Agus.

BACA JUGA:  Peminat Gerakan Nasional 1000 Startup Digital di Yogyakarta Membeludak

Dalam mengukur tingkat ketahanan energi suatu negara adalah dengan indikator 4-A (Availability, Acceptability, Affordability, Accesibility).

Dari segi availability (ketersediaan) tercatat bahwa kemampuan untuk menyediakan energi secara nasional menurun, terlihat dari merosotnya kapasitas produksi. Sementara itu, untuk memenuhi kebutuhan energi di dalam negeri, yang dilakukan adalah dengan mengimpor minyak bumi. Menurut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Indonesia memiliki cadangan minyak bumi 3,3 miliar barel. Dan diprediksi, Indonesia tidak mampu memproduksi minyak lagi 11 hingga 12 tahun ke depan.

Indikator Acceptability adalah mutu dari energi yang dipakai. Sedangkan Affordability (keterjangkauan) masyarakat. Ini juga menjadi polemik tersendiri. Paul melihat bahwa tantangan terbesar dari sektor energi adalah harga energi murah.

“Itu karena pemerintah ingin masyarakat yang daya belinya rendah bisa menikmati harga yang murah. Tapi pada musim dingin, harga batubara meningkat maka Pertamina akan terbebani harga batubara yang mahal. Di masa depan, renewable energy akan menjadi semakin murah. Right now, there’s no incentive to use alternative energy because the people take the cheap price for electricity for granted.,” ujar Paul yang merupakan Director Green Finance Asia dari South Pole Group.

Indikator terakhir, Accessibility. Di Indonesia ini juga masih menjadi persoalan, masih banyak area rumah tangga di desa-desa yang belum mendapatkan aliran listrik.

Tantangan yang besar ini, juga memberikan sebuah potensi besar yang dilihat oleh Nexus SEA, “Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemimpin dalam transisi energi dengan dukungan solusi smart energy terukur. New Energy Nexus SEA senang bekerja sama dengan Digitaraya untuk memfasilitasi transisi ini dan kami berharap dapat melihat para pengusaha mengubah konsep yang selama ini masih mengganjal untuk mereka menjadi bisnis yang layak,” tutur Stanley.

BACA JUGA:  Bagas Bikin Roo! Buat Para Orang Tua
Pembahasan Mengenai Smart Energy yang Menjadi Peluang Besar Sekaligus Tantangan di Indonesia | Dok. Menara by KIBAR

Smart Energy sendiri adalah integrasi cerdas dari sumber energi terbarukan dengan emisi karbon rendah atau tidak ada sama sekali (surya, angin, biomassa berkelanjutan, hidro). Termasuk juga urusan distribusi dan transmisi yang efisien (grid pintar dan lintas batas, pasar energi, infrastruktur), serta konsumsi optimal (manajemen sisi permintaan, penyimpanan, smart meter, prosumer), yang semuanya merupakan masa depan sektor energi. Selain itu sistem ini juga memaksimalkan efisiensi dan mengurangi biaya.

“Apakah kita siap? Di industri energi, itu bisa dilakukan. Saya pernah berkunjung di satu pabrik di Korea yang memberikan gambaran soal seberapa banyak energi yang dikonsumsi. Ada hal-hal yang secara prinsip tidak membutuhkan regulasi, misalnya membangun persepsi soal reserving the energy. We could digitize the using of energy so we can be aware of the energy consumption to be more and more efficient,” lanjut Paul.

Teknologi terbukti sudah membantu dalam pengembangan energi, namun terbatasnya model bisnis, perangkat lunak, keuangan, dan layanan inovatif menjadi tantangan yang menghambat distribusi energi.

“Di Digitaraya, fokus kami adalah untuk mendukung generasi pengusaha Indonesia di masa depan, yang bersemangat membangun solusi inovatif untuk tantangan yang paling mendesak di Indonesia. Sebagai pasar terbesar dan paling beragam dan sumber daya energi terbesar di Asia Tenggara, Indonesia memiliki posisi yang baik untuk menjadi pemimpin regional dalam solusi energi cerdas. Kami sangat senang dapat bermitra dengan Nexus SEA untuk membantu para wirausahawan Indonesia membangun solusi yang cerdas dan berkelanjutan guna memenuhi kebutuhan energi negara dan kawasan,” tutup VP of Strategy Digitaraya Nicole Yap.

Dari kiri ke kanan: Octa Ramayana (Head of Research, Digitaraya), Agus Sari (CEO, Landscape Solar), Nicole Yap (VP Strategy, Digitaraya), Stanley Ng (Program Manager, Nexus SEA), dan Paul Butarbutar (Director Green Finance Asia, South Pole Group) | Dok. Menara by KIBAR

Kerja sama ini sejalan dengan visi serta misi dari Gerakan Nasional 1000 Startup Digital, sebuah gerakan untuk mewujudkan potensi Indonesia menjadi The Digital Energy of Asia di tahun 2020. Maka, gagasan pertama dari inisiatif ini adalah dengan ikut serta dalam beberapa tahapan di rangkaian fase yang tersedia pada Gerakan Nasional 1000 Startup Digital, yang nantinya akan diikuti oleh beberapa program Smart Energy lainnya.

BACA JUGA:  Mencari Startup Terbaik, Techsauce Global Summit Keliling 20 Negara

 

Originally posted on Recap.id.

Categories: Tech & Startups