Gerakan Nasional 1000 Startup Digital, sebuah gerakan untuk mewujudkan potensi Indonesia menjadi The Digital Energy of Asia di tahun 2020 dengan mendirikan 1.000 startup yang menjadi solusi atas berbagai masalah dengan memanfaatkan teknologi digital telah memasuki gelombang ketiga.

Berbeda dengan dua gelombang sebelumnya, gerakan yang memiliki visi menjadikan Indonesia pemimpin digital di Asia ini kini lebih fokus dalam mematangkan konsep para peserta dengan mendatangkan para domain expert di sektor industri yang jadi fokus dari prioritas pemerintah. Sektor industri yang menjadi prioritas tersebut adalah: agrikultur, pendidikan, kesehatan, pariwisata, logistik, dan smart energy. Konsep baru ini dikedepankan dalam peresmian di Auditorium Anantakupa, Kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta, Sabtu (24/03) lalu, agar para entrepreneur di Gerakan Nasional 1000 Startup Digital dapat memiliki pemahaman yang lebih mendalam terhadap permasalahan yang riil di lapangan.

“Indonesia memiliki potensi yang banyak, namun sayang masyarakat belum mencapai tahap kehidupan yang baik, karena belum ada kemampuan untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah,” kata Lis Sutjiati, Staf Khusus Menteri Kominfo, yang juga menyarankan masyarakat Indonesia untuk lebih memahami permasalahan-permasalahan yang dihadapi terlebih dulu agar dapat mencari solusi, dalam keynote speech Ignition di Jakarta.

Lis Sutjiati, Staf Khusus Menteri Kominfo ketika memaparkan presentasinya di hadapan peserta Gerakan Nasional 1000 Startup Digital | Dok: Pribadi

Permasalahan-permasalahan tersebut dibantu diidentifikasikan oleh para pembicara yang kompeten di berbagai sektor industri yang jadi fokus pemerintah. Seperti M. Zulficar Mochtar, S.T., M.Sc., Kepala Badan Riset SDM Kementrian Kelautan dan Perikanan Ri dalam keynote speech dengan tema “Why Agriculture Matters?”, yang mengedepankan lemahnya sistem logistik terkait harga dan kualitas serta belum lancarnya akses pasar, yang menyambungkan antara pembeli dan penjual. “Bagaimana kita bisa meratakan akses tersebut? Ini bisa diinovasi dengan teknologi,” ungkap Zulficar.

Sementara Mulyadi Nasution, Director of Market Development GE Indonesia dalam keynote speech yang bertema “New Energy: Pass Down A Greener Earth For Generations To Come”, menyoroti mindset para calon startup founder. Kalau kalian mau bikin startup, pertama kali yang harus dilakukan adalah membentuk mindset atau pola pikir kalian terlebih dahulu,” pesannya.

Semuel Abrijani Pangerapan, B.S, (Dirjen Aplikasi Informatika, Kominfo RI) | Dok: Pribadi

Hal ini juga sejalan dengan yang disampaikan oleh Semuel Abrijani Pangerapan, B.S, Dirjen Aplikasi Informatika Kementrian Komunikasi dan Informatika RI, yang beranggapan bahwa di era digital ini lapangan pekerjaan akan jauh lebih banyak, melihat data perkembangan internet di Indonesia yang meningkat pesat dua kali lipat, terutama dalam 5 tahun terakhir. “Teknologi akan membantu manusia. Oleh karena itu pikiran harus dimerdekakan,” tuturnya memberikan wejangan.

Chief Executive KIBAR, Yansen Kamto ketika memberikan wawasan seputar startup kepada peserta Gerakan Nasional 1000 Startup Digital 3rd Wave | Dok: Pribadi

Permasalahan-permasalahan yang ada tersebut, bagi Yansen Kamto, Initiator Gerakan Nasional 1000 Startup Digital dan Chief Executive KIBAR, justru akan mendatangkan ide-ide brilian dalam membangun sebuah startup. “Cari hal apa yang hilang lima tahun lalu. Lalu identifikasi hal apa yang akan hilang lima tahun dari sekarang,” ucap Yansen, membocorkan kiat-kiat menjadikan Indonesia berdaulat dan kuat dengan menjadi diri sendiri, melalui Gerakan Nasional 1000 Startup Digital.

 

Categories: Tech & Startups