Lewat dongeng, anak-anak tak hanya diwariskan berbagai nilai budaya dan tradisi bangsa Indonesia, melainkan juga bekal bagi pengembangan kosa kata, pesan-pesan moral, dan juga kemampuan memecahkan masalah. Dongeng yang awalnya disampaikan secara lisan turun-temurun, kemudian mulai disampaikan secara tertulis. Adalah Sixtales Team, sekumpulan kreator visual yang tersebar di beberapa kota di Indonesia dan memfokuskan diri dalam dunia desain dan ilustrasi cerita anak.

Sixtales Team (Dok: Sixtales)

Berawal dari keinginan untuk tetap melestarikan dan menghidupkan dongeng sebagai salah satu tradisi yang mulai terlupakan di Indonesia, Sixtales berkolaborasi dengan Kreavi mengadakan pameran yang berjudul “ILUSTRA(DI)SI” pada tanggal 17-18 Maret 2018 dalam acara Kumpul Kreavi Episode 34. Mereka akan membahas bagaimana ilustrasi dapat menghidupkan nilai-nilai dan tradisi yang terkandung dalam sebuah dongeng. Mau tahu bagaimana perjalanan Sixtales Team dalam mengenalkan cerita dan tokoh-tokoh dongeng tradisional di era millennial ini? Yuk, simak wawancara Kabar KIBAR dengan Vicko Andika, founder dari Sixtales Team.

Ceritain dong, bagaimana sih awal mulanya Sixtales Team berdiri?

Awal Sixtales berdiri adalah karena kecintaan kami terhadap ilustrasi anak. Jarang sekali ada kelompok yang berfokus pada ilustrasi anak. Selain itu, Sixtales dibentuk bukan sebagai circle, melainkan team. Penggunaan nama Sixtales Team mengacu pada misi kami untuk membuat produk berupa buku yang bermanfaat dan terbit setiap tahun serta menjadikan Sixtales sebagai tempat belajar bersama. “Experiences that are worth to be told and shared” adalah motto kami.

Di mana kamu ketemu teman-teman tim yang lain?

Kita ketemu melalui Instagram dan jujur tidak saling mengenal satu sama lain. Bagaimana caranya bisa kompak? Kita ada semacam masa perkenalan (grup chat) selama kira-kira 3 bulan, yang tujuannya untuk mengenal satu sama lain. Setelah yakin, barulah Sixtales debut.

Mengapa Sixtales memiliki concern ke ilustrasi dongeng atau cerita rakyat? Menurut Sixtales, bagaimana kondisi bacaan dongeng atau cerita rakyat saat ini?

BACA JUGA:  Pameran Karya Inovasi Menarik di Designature 2017

Karena jarang sekali ada kelompok yang fokus dengan ilustrasi anak, setahu saya hanya Kelir. Dan menurut kami, dunia anak itu seru, banyak imajinasi. Kondisi dongeng saat ini sepertinya mulai kurang baik, karena budaya mendongeng juga kurang. Jadi banyak anak yang kurang tahu dongeng negerinya sendiri.

Ilustrasi dari para anggota Sixtales Team (Dok: Sixtales)

Sampai sekarang perjalanan Sixtales apa yang menurutmu paling berkesan?

Apa ya…hahaha, mungkin paling berkesan karena banyak yang mengenal keberadaan Sixtales di ilustrasi anak, yang kedua walaupun semua anggota Sixtales tersebar di berbagai kota di Pulau Jawa, kita tetap kompak, which is sebenarnya sulit, ibarat LDR gimana sih, tapi aman. Kalau dalam segi produk, alhamdulillah, setiap Sixtales bikin artbook selalu sold out, baik All Grown Up (2016) dan The Next Chapter (2017), itu berkesan banget sih.

Salah satu project dari SIxtales: All Grown Up (Dok: Sixtales)

Selama ini apa saja yang menjadi kendala di Sixtales?

Kendalanya mungkin komunikasi, ya karena kesibukan semua anggota masing-masing. Kita hanya bisa ketemu setahun sekali hahaha… Tapi sejauh ini semua lancar-lancar saja.

Apreasiasi untuk Sixtales datang dari mana saja dan yang paling besar datang dari mana?

Ketika orang mengenal Sixtales, itu menurut kami apresiasi. Kita bukan kelompok besar apalagi kita berfokus sama ilustrasi anak, kalau kita disukai, itu sudah bikin kita bahagia. Kalau apresiasi besar, mungkin pada saat buka booth di acara pop culture, beberapa perusahaan animasi, game, penerbit, banyak yang memberikan kartu namanya dan selalu bertanya apa itu Sixtales? Hahaha…

Mengapa Sixtales tertarik untuk berpameran dengan Kreavi?

Karena Kreavi salah satu yang mendukung industri atau acara-acara kreatif di Indonesia. Keberadaan Kreavi pokoknya sangat membantu banget, deh. Hampir setiap acara kreatif baik di kampus-kampus atau lainnya, pasti ada Kreavi-nya.

Apa harapan Sixtales untuk dongeng Indonesia ke depannya?

BACA JUGA:  Andi Martin, Pebisnis Kreatif Animasi Tanah Air

Untuk dongeng kedepannya, mungkin banyak lagi cerita-cerita dongeng yang diperkenalkan. Ketika orang hanya tahu Timun Mas dan Si Kancil, banyak kok dongeng lain yang bisa diceritakan, atau bahkan membuat dongeng sendiri. Budaya mendongeng harus lebih ditradisikan, baik dalam bentuk lisan atau tulisan.

Harapan Sixtales untuk desainer-desainer muda Indonesia ke depannya?

Harapan kami untuk kreator lain, jika kalian punya cita-cita di bidang apapun baik ilustrasi, animasi dan lain-lain, realisasikanlah, dan jadilah bermanfaat untuk sesama.

Kalau boleh tahu, apa project besar Sixtales dalam waktu dekat?

Project terdekat saat ini Sixtales akan membuat buku anak. Buku anak tersebut akan bercerita tentang kehidupan, imajinasi, dan hubungan keluarga. Kami memberinya judul Home.

Penasaran kira-kira seperti apa karya dari Sixtales?. Ajak teman atau saudaramu lalu buruan registrasi di sinidan temukan kesempatan ngobrol langsung dengan mereka hanya di Kumpul Kreavi eps.34: ILUSTRA(DI)SI.

Categories: Creative