Sampai saat ini memang belum ada sebuah statistik resmi mengenai kasus-kasus eksploitasi seksual anak secara online yang terjadi di Indonesia, namun penelitian yang pernah dilakukan ECPAT Indonesia menggambarkan adanya pergeseran bentuk dan penyebaran eksploitasi seksual anak dari ranah “offline” ke “online”. Meski pergeseran ini tidak terjadi 100 persen, namun terlihat pola kejahatan online yang meningkat dari waktu ke waktu.

Minimnya pengetahuan anak/remaja, orang tua, dan guru menjadi salah satu penyebab tingginya kasus eksploitasi seksual secara online. Anak-anak seringkali menjadi target para predator seks yang menjangkau lewat smartphone, membujuk, dan mengiming-imingi anak-anak tersebut untuk melakukan hubungan seks berbayar. Berawal dari ajakan nongkrong di café atau sekadar jalan-jalan ke tempat wisata, hingga dijanjikan uang jajan bulanan, kondisi inilah yang menjadi pintu masuk terjadinya eksploitasi seksual anak, menurut Kriminolog UI, Kisnu Widakso.

Kurangnya kesadaran dari para orang tua untuk melapor menambah sulitnya akses organisasi perlindungan anak dan komunitas menuju kasus-kasus eksploitasi seksual anak secara online. Itu sebabnya, ECPAT Indonesia dan Google Indonesia bersama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak melakukan sebuah program pelatihan yang ditujukan bagi seluruh organisasi perlindungan anak dan kelompok Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) di Indonesia sebagai bentuk pencegahan terhadap kejahatan seksual anak online.

Pelatihan pencegahan eksploitasi seksual anak online untuk organisasi perlindungan anak dan komunitas ini berlangsung dari tanggal 7 – 8 Februari 2018 lalu di Menara by KIBAR, Jakarta Pusat setelah sebelumnya dimulai dengan Konferensi Nasional sebagai kick-off dari program yang bertujuan meningkatkan pemahaman CSO dan PATBM dalam menanggulangi kasus kejahatan seksual anak online ini.

Pelatihan ini sukses dihadiri oleh 40 peserta berusia 22 – 40 tahun yang mewakili 22 provinsi di Indonesia, memiliki kemampuan public speaking, pemahaman dasar hak anak, dan berkomitmen melakukan peningkatan kesadaran mengenai pencegahan eksploitasi seksual anak online di wilayah asal mereka.

Pada hari pertama pelatihan, para peserta dibekali dengan berbagai materi pengenalan dasar akan bagaimana mewujudkan pencegahan eksploitasi seksual anak secara online, pemahaman mengenai internet dan teknologi, serta hukum.

Keesokan harinya, peserta pelatihan diberikan materi mengenai Google Trust and Safety serta melakukan perjalanan menuju POLDA Metro Jaya untuk melakukan diskusi yang berkaitan dengan penanganan kasus kejahatan seksual anak online. POLDA Metro Jaya unit PPA juga memberikan paparan mengenai kasus-kasus yang pernah ditangani, prosedur pelaporan berbagai kasus cyber crime, hingga sesi tanya-jawab yang dibuka dan ditanggapi dengan penuh antusiasme oleh para peserta.

Diharapkan melalui pelatihan ini, peserta dapat memahami situasi dan tren terkini mengenai eksploitasi seksual anak online pada tingkat nasional dan penyalahgunaan teknologi komunikasi dan informasi terkait kejahatan seksual terhadap anak-anak secara online. Selain itu, organisasi perlindungan anak dan kelompok PATBM juga diharapkan dapat memiliki pemahaman menyeluruh mengenai peraturan perundang-undangan nasional dalam mengatur eksploitasi seksual anak secara online di tingkat nasional dan dapat melakukan berbagai upaya pencegahan.

BACA JUGA:  Film Kinetik Memantik Gerakan Muda Bergerak