KIKA : PROF ALI DAN CMO KATA.AI REYNIR FAUZAN | HESTI PRATIWI/RECAP

Teknologi punya segudang manfaat, tetapi juga punya sisi buruk yang mengkhawatirkan. Tidak terkecuali teknologi yang kini ramai dibicarakan, artificial intelligence (AI).

Stephen Hawking, Elon Musk, Steve Wozniak, Bill Gates, adalah segelintir dari nama besar di bidang sains dan teknologi yang mengungkapkan keprihatinannya tentang risiko yang bakal ditimbulkan oleh AI.

Banyaknya terobosan baru-baru ini di sektor AI, membuat banyak ahli menganggap serius kemungkinan munculnya superinteligensi. Ahli dan peneliti AI memprediksi AI akan memiliki potensi untuk menjadi lebih cerdas daripada manusia. Sementara kita tidak memiliki cara pasti untuk memprediksi bagaimana perilaku tersebut akan berkembang dan merespon.

Manusia mengendalikan planet ini, bukan karena kita adalah mahluk yang terkuat, tercepat atau terbesar, tapi karena kita yang paling cerdas.

Jika kita bukan lagi yang terpandai, apakah kita yakin untuk tetap memegang kendali? Atau justru cerita fiksi ilmiah akan menjadi kenyataan, robot akan mengambil alih dunia. Ini akan menjadi tantangan untuk peradaban dunia di masa datang.

Antero, acara yang diinisiasi oleh kanal sains “Kok Bisa?”, membahas AI yang tidak hanya mengancam pekerjaan manusia, tapi juga evolusi hingga peradaban manusia. Menghadirkan pembicara Prof. Ali Akbar, arkeolog dari Universitas Indonesi,a dan CMO Kata.ai Reynir Fauzan.

Menurut Prof Ali, “Tuhan memberikan empat hal: fisik, akal, rasa, dan nyawa. Kemudian manusia menciptakan hal-hal lain untuk memperkaya dirinya, seperti budaya.”

Hematnya, Prof. Ali  menjelaskan bahwa saat ini seperti robot Sophia yang belakangan ramai diberitakan, robot sudah memiliki fisik dan sekarang sudah mulai memiliki akal, tapi masih belum bisa memiliki rasa, apalagi nyawa. “Nah, Kalau poin tiga dan empat itu sudah ada, maka manusia baru akan terancam.”

BACA JUGA:  Ketut Yoga Yudistira dkk. : Bikin Kanal Edukasi Yang Menyenangkan

Meski teknologi machine learning, yang memungkinkan robot untuk terus belajar, hingga menghasilkan robot yang bisa melebihi kecerdasan manusia, nampak sudah di depan mata, namun robot tetap membutuhkan manusia untuk perkembangannya.

Sebagian besar peneliti dan pembicara di acara Antero setuju bahwa AI tidak mungkin memiliki rasa cinta atau benci (emosi), maka tidak ada alasan untuk mengharapkan AI menjadi robot yang benar-benar baik hati atau jahat. Kekhawatiran yang paling masuk akal saat ini adalah, bagaimana jika AI diprogram untuk  melakukan sesuatu yang menghancurkan: Senjata dengan sistem kecerdasan buatan yang diprogram untuk membunuh. Di tangan orang yang salah, senjata ini bisa dengan mudah menyebabkan korban jiwa.

Selain itu, perlombaan senjata AI secara tidak sengaja dapat menyebabkan perang AI yang juga mengakibatkan korban jiwa. Untuk menghindari musuh, senjata-senjata ini akan dirancang sangat sulit untuk “dimatikan”, sehingga manusia dapat dengan mudah kehilangan kontrol atas situasi semacam itu. Bahkan jika dipadukan dengan kecerdasan buatan face recognition, AI dapat dijadikan alat membunuh dengan target spesifik.

Di sisi lain AI juga bisa diprogram untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat. Seperti yang Reynir kemukakan, kemungkinan tentang intelligence amplification. Penambahan kemampuan pada manusia. Ibaratnya menanamkan robot pada dirinya. Tangan prostetik yang lebih cerdas, seperti milik Luke Skywalker. Atau pergantian organ tubuh dengan robot seperti Robocop.

Seperti yang ditunjukkan oleh contoh-contoh ini, kekhawatiran tentang AI lebih lanjut adalah kompetensi. AI super cerdas akan sangat hebat dalam mencapai tujuannya, tinggal cara kita umat manusia bisa memanfaatkan teknologi ini untuk kepentingan manusia, bukan malah menjadi alat penghancur peradaban.

Seperti Reynir katakan, “Anda yang mau jadi robot atau Anda ingin robot yang mengerjakan pekerjaan Anda?” Untuk menjawab tantangan masa depan, manusia harus mulai menggunakan kemampuannya beradaptasi terhadap kemajuan teknologi.

BACA JUGA:  Google Luncurkan Akselerator Startup di Indonesia

Originally posted on Recap.id