TEMPO.COJakarta -Sebuah ironi yang dicatat Badan Pusat Statistik (BPS) menggugah Badrut Tamam Hikmawan. Sebanyak 68 persen produk peternakan sapi yang dikelola 5,7 juta peternak lokal ternyata tidak bisa diserap pasar domestik. Konsumen malah membeli produk impor atau sapi impor yang digemukkan di dalam negeri.

Ternyata, menurut Tamam, tidak terserapnya daging dari peternak disebabkan beberapa masalah. Selain daging yang kurang berkualitas jika dibanding pasokan impor, peternak lokal dan sebagian besar rumah pemotongan hewan kurang higienis, cenderung abai terhadap kebersihan daging. Walhasil, produknya terjual dengan harga rendah.

Baca: Startup Pilihan Tempo: Riliv, Aplikasi Curhat Masalah Batin

Resah akan masalah ini, Tamam menciptakan Karapan, aplikasi penjualan produk peternakan, pada Mei lalu. Dia menggandeng sekitar 200 peternak sapi dari 33 kelompok peternak untuk memakai platform jual-beli ini. “Berdirinya Karapan bukan sebatas ide saja, melainkan didasari semangat para peternak untuk berkolaborasi dalam memperbaiki tata niaga dan kualitas sapi potong menggunakan teknologi,” kata dia.

Karapan bekerja sama dengan Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya untuk melatih peternak memotong daging sesuai dengan standar aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH). Setelah proses ini selesai, Tamam bergerilya mencari pembeli—sekaligus meyakinkan mereka—bahwa daging yang dijual peternak lokal sudah punya standar bagus.

Dalam tiga setengah bulan, omzet penjualan daging sapi melalui Karapan mencapai Rp 800 juta. Karapan juga melayani pesanan daging kurban dengan total transaksi Rp 3,2 miliar. Startup yang berbasis di Surabaya, Jawa Timur, ini mengambil komisi 1-5 persen per transaksi.

Untuk keberlanjutan usaha, Tamam menuturkan, peternak juga mendapat akses berupa kantor virtual yang disediakan Karapan. Fasilitasnya berupa manajemen operasi, pemantauan peternakan secara real time, dan laporan kinerja serta rekomendasi secara berkala.

BACA JUGA:  9 Finalis di Surabaya Ocean Resort Branding Challenge Hadirkan Warna Baru pada Waterfront City di Suramadu

Tamam menargetkan pada 2020 penjualan daging sapi bisa mencapai 8.500 ton. Angka ini setara dengan 1 persen dari prediksi suplai daging di pasar domestik pada tahun yang sama. Dia berharap transaksi daging di Karapan bisa mencetak omzet hingga Rp 400 miliar pada 2020.

Tempo Media Group menyerahkan penghargaan “ Startup Pilihan Koran Tempo 2017” di Gedung Siola, Genteng, Surabaya, Senin, 18 Desember 2017. Penghargaan ini diterima oleh 16 usaha rintisan atau start-up yang memenuhi beberapa kriteria, dari aspek bisnis hingga dampak sosial.

ROBBY IRFANY| FERY FIRMANSYAH

Originally posted on TEMPO.co