Blockchain adalah gagasan baru di industri teknologi dunia. Kemampuannya untuk mencatatkan segala aktivitas secara digital dapat memberikan dampak signifikan untuk berbagai sektor industri, termasuk ke finansial. Di acara Fintech Connect yang keempat, dengan judul “Cryptocurrency” para narasumber mencoba memberikan pandangannya tentang tren blockchain di Indonesia.

“Teknologi blockchain di dunia belum ada (yang menggunakannya dengan maksimal). Umumnya masih pilot (percobaan). Karena kedewasaan pemain blockchain antarpemain itu beda-beda, apalagi di perbankan. Di perbankan ROI-nya tinggi, mereka pikir ngapain mencoba sesuatu yang belum ditahui?” kata Ricky Satria, Deputy Director Bank Indonesia, saat membuka acara Fintech Connect ke-4 di sesi keynote speech-nya (24/10).

Lebih lanjut, Ricky memberikan analogi tentang blockchain. Ia mencontohkan memberikan aset (dalam hal ini bisa berupa transfer uang) ke pada seseorang, lalu seluruh pihak melihat dan memverifikasi kegiatan tersebut adalah benar. Itu adalah common sense of trust yang menjadi kelebihan blockchain tanpa perlu perantara dan validasi dari pihak ketiga.

Dalam praktik yang lain, Ricky mengatakan bahwa blockchain bisa digunakan untuk bermacam-macam seperti distribusi musik dan pembagian royaltinya, klaim asuransi, pelacakan logistik, dan lain sebagainya. Di sektor keuangan dan perbankan, Ricky mencontohkan blockchain juga bisa digunakan untuk KYC (Know Your Customer).

Di kesempatan yang sama Head of Research and Development at Indonesia Stock Exchange, Poltak Hotradero, memberikan penjabaran yang lebih teknis tentang blockchain. Katanya, masing-masing block memiliki hash. Hash ini seperti sidik jari yang isinya bisa satu halaman, satu kilobyte, hingga satu terabyte, hash ini tetap sama untuk file yang berbeda-beda. Perubahan satu bagian pun sidik jarinya langsung berubah. Dengan seperti itu, kita mendapatkan file yang benar atau file yang salah bisa dibuktikan melalui catatan sidik jarinya (hash).

BACA JUGA:  Fintech Connect Episode 8: Closing The Underinsurance Gap | Asuransi Digital Perluas Akses, Tingkatkan Efisiensi dan Transaksi

“Blockchain itu basically banyak block dan hash (rantainya [chain]). Kalau di tengah jalan ada yang mengubah, maka hash-nya akan berubah juga.”

Namun penerapan blockchain bukan tanpa masalah sama sekali, ada beberapa alasan mengapa blockchain masih akan terbatas perkembangannya. Dari faktor governancescalabilityinteropability, dan juridiction, yang dikatakan Ricky nampaknya semua tantangan akan bermuara ke regulasi dan peraturan.

Tentang konsep common sense of trust di atas, Ricky mempertimbangkan kembali kebutuhan sentralisasi untuk proses perpindahan aset. Ia juga menyoroti metode mempersatukan berbagai pemain blockchain yang ada sehingga perlu dibentuk standarisasinya. Lalu yang pasti dipertanyakan ialah mitigasi resiko yang sampai sekarang belum diketahui solusinya.

“Untuk blockchain kita masih jajaki kajian regulasinya. Lebih banyak melihat penerapannya di sektor keuangan, beberapa juga digunakan untuk remitansi. Memang harus ada satu minimum ruleyang ada di masyarakat,” papar Ricky.

Walau demikian Poltak mengatakan jangan sampai inovasi terbentur regulasi. Ia sendiri tak terlalu khawatir dengan hal ini, menurutnya tak perlu membuat regulasi yang tak dapat ditegakkan. Tetapi dengan tidak adanya regulasi, konsekuensinya ditanggung masing-masing.

“Kita memang harus masuk dalam tahap pendewasaan. Regulasi pasti akan ketinggalan karena inovasi selalu di depan. Tetapi orang berinovasi juga harus mengerti. Ini yang perlu ditekankan dengan orang-orang yang terkait dengan inovasi tersebut,” tutur Poltak.

Begitu pula yang dikatakan Staf Khusus – Kemenko Perekonomian Benediktus Dwi Hari Prasetyo, Ia menceritakan bahwa pemahaman fundamental tentang literasi digital seharusnya menjadi bekal masyarakat untuk bisa berpikir dan mempertimbangkan keputusan mereka.

“Pentingnya ya digital literacy. Inilah yang bisa kita kasih ke masyarakat, bahwa ada risiko, ada pertimbangan berbagai masalah. Saya sendiri pelaku startup blockchain Indonesia. Jangan takut mengenai keamanan, hingga saat ini, ledger-nya belum pernah crackedExchange-nya yang pernah dibobol,” tegas Benediktus.

BACA JUGA:  7230 Donor Darah Rek! Siapa Bilang Donor Darah itu Ribet!

“Saya tanyanya apakah Private Key kamu dicatat di server mereka (penyedia layanan blockchain)? Kalau iya, tinggalkan jauh-jauh,” tambahnya.

Benediktus sendiri juga memiliki startup berbasis blockchain. Ia bukan anti dengan regulasi, hanya saja menurutnya pemahaman bahwa teknologi seharusnya dapat mempermudah teknologi masyarakat di berbagai hal, bukan sesuatu yang harus dibatasi oleh peraturan. Namun jikalau memang nanti harus ada regulasi dari negara, Ia sangat terbuka untuk berdiskusi.

“Kita akan selalu light touch dengan regulasi. Kita tidak mau didikte teman-teman lain, tetapi kita juga akan mengakui independensi teman-teman yang lain,” tutupnya.

Originallly posted on Recap.id.

Categories: Tech & Startups