Belasan anak muda khusyuk di depan layar laptopnya. Sesekali melirik gawai, lalu kembali menelisik di antara tab mesin penjelajah. Ada juga yang meriung dengan wajah serius, tengah mendiskusikan sesuatu.

Suasana yang sekilas tampak tegang itu bisa seketika cair begitu pandangan dilemparkan ke luar jendela. Di antara gedung-gedung pencakar langit Surabaya, bunga tabebuya berwarna merah jambu dan kuning tengah bermekaran.

Siang itu, Muhammad Faza Abadi Udayana, baru saja berkeliling Kota Pahlawan. Co-founder aplikasi Olride itu setiap hari rutin mendatangi bengkel sepeda motor untuk memperkenalkan ke pelanggan. Olride ialah aplikasi booking antrian servis bengkel, yang juga memiliki fitur online chatting dengan bengkel, reminder surat-surat berharga, dan riwayat servis online.

“Kami dulu binaan dari program Startup Sprint Surabaya, batch terakhir program Start Surabaya,”ujarnya saat ditemui Tempo di co-working space bikinan Pemkot Surabaya bernama Koridor, Jumat, 13 Oktober 2017. Bersama Kibar, Enciety, dan stakeholder lainnya, pemerintah kota Surabaya merancang program inkubasi dan akselerasi startup pada tahun 2015 dan 2016.

Faza dan beberapa perusahaan rintisan digital lainnya, memilih berkantor di Koridor lantaran co-working space sebelumnya sudah habis masa kontrak. Semasa program Start Surabaya berjalan, mereka biasa berkumpul, bekerja, dan bertukar pikiran di Forward Factory, kawasan Surabaya Barat.

Sejak 2015, Surabaya memang telah mencuri start menggembelang anak-anak muda di bidang digital startup itu. Selama tiga bulan pertama, mereka digembleng untuk menjalani berbagai aktivitas seperti lokakarya, seminar, konsultasi serta pelatihan yang dibantu mentor dan fasilitator berpengalaman dan ekosistem.

Sebanyak 45 anak muda itu menjalani serangkaian proyek untuk membantu memunculkan ide hingga eksekusi. “Waktu itu kami digembleng dari yang nggak punya produk sampai jadi produk dan menemukan pasar. Akhirnya Olride bertahan sampai sekarang,” kata dia.

BACA JUGA:  Berkat Kreativitas Pemenang Start Up Surabaya Terbang Ke Silicon Valley

Tak hanya hard skill, mereka dibekali pelatihan soft skill untuk mengembangkan kemampuan diri dan kepribadian sebagai calon pebisnis kreatif berbasis teknologi. Pemenang utamanya diajak melawat ke Silicon Valley, pusat pelaku industri teknologi kelas dunia di San Fransisco, Amerika Serikat.

Geliat mencetak perusahaan rintisan berbasis teknologi ini lalu bergerak ke kota lainnya melalui program yang lebih besar. Adalah 1000 StartUp Digital hasil kerja sama Kementerian Komunikasi dan Informatika dengan Kibar diluncurkan di luar Jakarta dan Surabaya pada pertengahan Juli 2016. Selain dua kota tersebut, ada delapan kota lain yang menjadi titik awal program 1.000 StartUp Digital yakni Yogyakarta, Bandung, Semarang, Malang, Medan, Pontianak, Denpasar, dan Makassar.

Kini, para alumnus Start Surabaya dan peserta 1.000 Startup Digital berkarya dari lantai 3 gedung Siola, Surabaya tersebut. Project Officer Kreavi yang juga mengkoordinir komunitas di Koridor, Vincent Surya, menyebutkan setidaknya terdapat 10 startup digital yang menghuni co-working space itu. Tiga di antaranya merupakan jebolan Start Surabaya yang diselenggarakan lebih dulu. Yakni Reblood, Riliv, dan Olride. “Lainnya ada Jahitin, Qtaaruf, Karapan, Agenda Kota, dan Kreavi,” tuturnya.

Namun Koridor adalah ruang yang terbuka bagi siapa saja. “Banyak anak-anak desain, developer, dan mahasiswa komunikasi yang ke sini. Bahkan komunitas film yang syuting di sini,” kata Vincent. Akhir pekan adalah waktu favorit mereka berkumpul. Tak heran, Koridor tampak semarak dengan pajangan karya anak-anak muda Surabaya mulai poster dan desain kemasan yang diaplikasikan ke produk UMKM.

Selain itu, setiap minggu terdapat pelatihan dari Facebook dan Google bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) secara umum. Ada 50 sampai 60 peserta pelatihan yang datang untuk menimba ilmu seputar ekonomi digital dan media sosial di sana.

BACA JUGA:  Mentor dari Silicon Valley Google akan Hadir di Co Working Space Siola Surabaya

Faza mengakui, iklim digital startup di Kota Pahlawan masih bertumbuh. Apalagi sudah bukan rahasia lagi jika tak sedikit startup di Indonesia yang akhirnya bertumbangan. “Kami pun dari awal mendaftar Startup Sprint Surabaya bertiga, lalu sempat berlima, menjadi 11 orang, lalu sekarang 6 orang.”

Mahasiswa Universitas Brawijaya itu mengungkapkan, startup mengalami 2 tantangan serius agar bertahan. Keduanya adalah kekuatan tim dan kekuatan produk. “Setelah memiliki produk yang diminati orang, yang paling penting menurut saya adalah tim yang solid. Karena dengan tim yang solid, produk juga bakal sustain,” ucap dia.

Akses permodalan juga dinilai tak kalah penting. Ketua Pusat Inovasi Industri ICT Universitas Narotama Aryo Nugroho mengatakan, alumni program inkubasi startup berbasis teknologi kurang bertahan lantaran orientasinya kurang tepat. “Pola pembinaan yang lebih diperlukan adalah pemodalan. Sebab, startup-startup ini tak mudah juga memperoleh Venture Capital. Sedangkan kebanyakan digital startup sulit bankable karena bank hanya menerima kolateral alias jaminan pinjaman tanah/bangunan,” tutur dia.

Founder jejaring pertemanan asli Indonesia, Catfiz itu mendorong agar konsep Pentahelix benar-benar diwujudkan. Pentahelix ialah rumusan sinergi antara Academic (Akademisi), Business (Pengusaha), Community (Komunitas), Government (Pemerintah), dan Media.

Sayangnya, kata Aryo, pemerintah lebih berorientasi pada serapan anggaran. “Repotnya, dana ini kurang fleksibel diserap oleh startup. Habis hanya di ceramah, diskusi dan seminar,” ujarnya.

Meski begitu, langkah pemerintah kota Surabaya dalam membangun co-working space seperti Koridor perlu tetap diapresiasi. Apalagi, Kota Pahlawan memiliki potensi yang lebih besar dibandingkan Jakarta. Surabaya menduduki peringkat pertama sebagai kota e-commerce berdasarkan hasil riset Google bersama lembaga riset Gesellschaft für Konsumforschung (GfK) mengenai “Perilaku Belanja di Indonesia“.

“Kota Pahlawan tersebut menduduki peringkat pertama dengan 71 persen. Disusul kemudian dengan Medan dengan prosentasei 68 persen. Sedangkan, Jakarta saat ini hanya menjadi kota e-commerce ketiga dengan presentase 66 persen,” ujar Aryo merujuk pada riset yang dilansir 19 Agustus 2017 tersebut. Dari sisi waktu menggunakan platform, Surabaya juga mengungguli Jakarta. Waktu yang dihabiskan dalam sehari mencapai 5,8 jam, sedangkan Jakarta hanya 4,7 jam.

BACA JUGA:  Sediakan Platform Kesehatan Mental, Google Pilih Riliv Jadi Pemenang

Surabaya, kata Aryo, jelas merupakan tempat yang bagus sebagai co-working temporary para digital startup. Menurutnya, Kota Pahlawan harus segera mengambil langkah menghadapi peluang itu dengan membangun sebanyak mungkin temporary co-working space selain Koridor. “Andai sentra-sentra UMKM, pendopo, balai kecamatan, dan pujasera dibangun dengan standar waralaba, diberi AC, colokan listrik, dan gratis internet, mungkin yang namanya Co-Working Space sudah ada dimana-mana saat ini di Surabaya,” ujar dia.

Pria yang tengah mendalami riset doktoral terkait Social Media Network di Tokyo University of Technology itu optimistis potensi ekonomi digital di Surabaya akan terus tumbuh. Melalui pendidikan, Surabaya menjanjikan iklim berbisnis berbasis teknologi bagi anak-anak muda yang lebih murah dibandingkan ibukota Jakarta.

“Sebaiknya pemerintah kota segera melihat potensi ini. Benahi infrastruktur kota, khususnya transportasi, karena ini akan membuat industri jasa lebih efisien,” ujarnya. Tak lupa co-working space yang diperbanyak, dipermudah serta “murah”.

Jika ini semua diselesaikan oleh pemerintah, kata Aryo, anak muda Surabaya bisa bersaing penuh di kancah global. Seperti Silicon Valley yang diidam-idamkan Wali Kota Tri Rismaharini ketika membawa rombongan pemenang Start Surabaya pada Februari 2017 lalu.

 

Originally posted on TEMPO.co

Tags: