Banyak disrupsi teknologi yang memaksa para pemain dari sistem ekonomi konvensional melakukan perubahan dan inovasi, termasuk ke sektor pariwisata dan hospitality di Indonesia. Dalam acara Fintech Connect 3: Unravel The Travel Industry (6/9), ada dua panel diskusi yang menggarisbawahi peran teknologi khususnya fintech yang akan mendorong industri pariwisata nasional dalam era digital.

Seperti yang telah kami kabarkan sebelumnya, Fintech Connect kali ini mengundang beberapa pembicara dari berbagai latar belakang seperti travel blogger, pelaku industri pariwisata, dan perbankan. Di sesi pertama ada Managing Editor MalesBanget.com Yuki Anggia Putri, dan travel blogger BackpackStory Arif Rahman. Sesi selanjutnya yang tak kalah menarik hadir sebagai pembicara ialah Co-founder Tiket.com Gaery Undarsa, Direktur Pengembangan Bisnis dan TI Bank Bukopin Adhi Brahmantya, dan Ketua Bidang SDM dan Litbang Indonesian Tour Leaders Association Bobby Moningka.

Kita telah mengetahui dalam sektor pariwisata terjadi banyak sekali transaksi, namun transaksi-transaksi yang ada masih tidak teratur dan belum efisien, transaksi tunai dan non-tunai, misalnya. Hal ini mempersulit wisatawan sebab mereka harus mempersiapkan kedua bentuk pembayaran dan memilih bentuk mana yang lebih baik untuk digunakan pada setiap transaksi. Bahkan, pembayaran terkadang menjadi terhambat. Hal ini memakan waktu dan tenaga, padahal wisatawan sering hanya memiliki waktu yang singkat untuk menikmati destinasi yang dikunjunginya.

“ Informasi juga sepertinya masih kurang. Kalau seperti Bali, Labuan Bajo, mungkin sudah banyak informasinya. Sarana untuk mendapatkan akses ke sana juga masih kurang. Cara booking bagaimana? Kita cuma tahu, naik kapal A ke titik B, tapi kita gak tahu bisa gak sih booking di tempat? Bisa gak sih secara online? Karena kalau saya jalan tuh, lebih suka bahwa semua sudah siap dari titik start. Kalau di Indonesia, nggak semua hal bisa dilakukan dari titik start. Harus jalan dahulu ke tempat tertentu untuk melihat kondisinya dan memulai persiapanya,” kata Arif Rahman dalam sebuah sesi berjudul “Let’s Get Lost with Fintech”.

BACA JUGA:  Menteri Digital Prancis Membuka Jalur Kerja Sama dengan Startup Indonesia di Markas KIBAR

Ini menjadi salah satu pemicu untuk terjadinya sebuah diskusi kolaboratif dan kerja sama antara para pegiat fintech, developer, dan startup terkait. Karena sektor fintech startup mulai mengambil alih pengembangan jasa finansial yang tidak dikembangkan oleh bank konvensional—atau bisa jadi malah memutakhirkan layanan serupa yang tersedia di bank konvensional. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa permasalahan serta ide inovasi di sektor keuangan adalah permasalahan multisektoral. Tetapi tidak hanya tentang keuangan, tapi termasuk juga dari sektor logistik, kebudayaan, agraria, kesehatan, pendidikan, pariwisata, dan lainnya.

Dalam sesi yang lain, berjudul “Digital Travel: What’s Next?”, Gaery Undarsa menjelaskan tentang transformasi industri pariwisata yang disentuh oleh teknologi berpotensi memperlebar pasar yang lebih besar. Tidak hanya sekedar beli tiket saja.

“Di tahun 2011, belum ada online travel agent yang benar-benar online, full dari awal hingga akhir prosesnya. Visi kami ke sana. Kini perusahaan sebesar Djarum bahkan tertarik sama kami, karena mereka melihat tourism and travel itu sebagai potensi besar. […] Kalau beli tiket doang gampang, Tiket.com saja bisa, saya sangat setuju. kita bisa menjangkau lebih luas, karenanya ekosistem besar, banyak celah yang bisa kita bahas. Ini industri besar,” papar Gaery.

Donny Oskaria dalam kesempatannya turut mengangguk menyetujui pernyataan Gaery, bahwa conventional travel agent dan online travel agent itu tidak praktis. Antavaya survive bukan karena Tiket.com. Tetapi karena perilaku kustomer yang berubah.

“Kami bukan musuh sama sekali (dengan Tiket.com). Ada deficit inbound, ada deficit outbound. Bagaimana kalau ada startup khusus outbound? Ini kan market yang luar biasa. Begitu pula destinasinya dan inboundkalau kita develop dengan benar,” ujar Donny.

BACA JUGA:  Yansen Kamto, Mitra Pemerintah Lahirkan 1.000 Startup Digital

Karena memang tak bisa dipungkiri terjadi tekanan yang luar biasa pada travel agent, menurut Donny. Tetapi ini juga menciptakan tantangan pemain konvensional untuk harus ikut bertransformasi. Juga meluruskan definisi digital business yang sebetulnya hanyalah hadir sebagai channel of distribution. Dan kehadiran Tiket.com misalnya, tidak serta membunuh bisnis Antavaya, tetapi lebih sebagai perpanjangan gaung dari bisnis itu sendiri.

“[…] Tetapi lama-lama bisnis konvensional dan digital ini pasti akan sampai titik berkolaborasi. Jika kita memahami ini sebagai salah satu channel distribution, pasti banyak sekali tantangan (dan kesempatan) yang akan tercipta,” tutupnya.

 

Originally posted on Recap