Peserta Gerakan Nasional 1.000  Startup Digital gelombang kedua di Yogyakarta membludak. Panitia penyelenggara menerima  1.000 calon starup digital dari 1.657 pendaftar. Jumlah peserta ini menunjukkan animo besar warga Daerah Istimewa Yogyakarta yang berminat dan menggeluti dunia digital.

“Ýogyakarta menjadi kota ketiga dari 10 kota yang direncanakan untuk gelombang kedua ini. Program ini sudah memasuki tahun kedua,” kata Aulia Masna, Project Leader Gerakan Nasional 1.000  Startup Digital di gedung Grha Sabha Prana Universitas Gadjah Mada, Sabtu, 26 Agustus 2017.

Para peserta  mengikuti proses awal dalam program ini. Pada gelombang pertama gerakan 1.000 startup diadakan di Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Bandung, Semarang, Malang, Denpasar, Makassar, Pontianak, dan Medan. Di setiap kota yang diadakan, hanya ada 10 startup yang terpilih untuk mengatasi berbagai persoalan di masyarakat dengan programnya.  “Gerakan ini mencari orang yang berminat dan mampu membuat bisnis digital,” kata dia.

Program ini, kata Aulia, tidak hanya berhenti menyeleksi orang yang membuat aplikasi digital saja. Tetapi lebih dari itu, bagaimana membangun dan memelihara bisnis tersebut agar menjadi solusi dalam berbagai persoalan masyarakat. Pada gelombang pertama, program ini telah terpilih 76 tim starup dari 10 kota dengan menggandengan 300 mentor.

Ada sebanyak 12 starup yang masuk dalam program inkubasi, empat di antaranya dari Yogyakarta. Per tanggal 10 Agustus 2017, Gerakan Nasional 1.000 Startup Digital sudah menjaring sebanyak 26.587 pendaftar. Setelah melalui seleksi, terpilih 5.700 peserta di 10 kota yang lolos untuk ikut. Saat ini, rangkaian Gerakan Nasional 1.000 Startup Digital sudah dilakukan untuk tiga kota, yaitu Jakarta, Surabaya, dan Yogyakarta.

BACA JUGA:  Cerita Startup: Petuah Cetar di Markas KIBAR

Menurut Direktur Pengembangan Usaha dan Inkubasi Univeraitas Gadjah Mada Hargo Utomo, para peserta ignisi ini akan terseleksi sebanyak 200 pebisnis yang dianggap serius. Proses mentoring sangat penting. Kalau tidak didampingi, kata dia, maka akan layu sebelum bisnis starup yang mereka lakukan maju. “Kami terbuka, tidak hanya mahasiswa dari UGM, tetapi masyatakat umum juga banyak,” kata dia.

 

Originally posted on TEMPO.CO

Categories: Tech & Startups