CEO Pasienia, sebut hal sepele ini bisa membunuh jalannya sebuah bisnis startup. Sudah tahu?

Merdeka.com, Malang – Gerakan Nasional 1000 Startup Digital merupakan salah satu bentuk dukungan pemerintah untuk membangun ekosistem usaha rintisan berbasis digital. Gerakan yang diinisiasi oleh Kibar dan didukung penuh oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkoinfo) ini telah digalakkan sejak 17 Juni 2016 lalu. Gerakan ini menyasar 10 kota besar di Indonesia, yakni Medan, Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Malang, Pontianak, Medan, Makassar, dan Bali.

Ingin melahirkan 1000 startup pada 2020 mendatang, gerakan ini menjaring peserta melalui lima tahapan. Yakni, Ignition, Workshop, Hacksprint, Bootcamp, dan berakhir pada tahap Incubation. Kelima tahapan ini dilalui dengan seleksi yang ketat, tanpa menghadirkan nuansa kompetisi di dalamnya.

Malang, sebagai salah satu kota tujuan Gerakan Nasional 1000 Startup Digital, kini telah melalui tahapan Hacksprint dan tengah bersiap menuju tahapan Bootcamp. Tahap Hacksprint ini dicapai setelah melakukan dua sesi seleksi pada tahapan Ignitasion dan Workshop. Peserta yang berhasil melalui tahapan Workshop 1 dan 2, melanjutkan pembinaan sekaligus seleksi pada tahap Hacksprint yang digelar 18-19 Maret 2017 lalu.

Fadli saat Gelaran Hacksprint – Gerakan Nasional 1000 Startup Digital © 2017 merdeka.com/Siti Rutmawati

CEO Pasienia, Fadli Wilihandarwo menuturkan, Gerakan Nasional 1000 Startup Digital ingin menghadirkan enterpreneur – enterpreneur startup digital dengan basis kolaborasi. Artinya, gerakan ini merupakan sebuah wadah yang mempertemukan para founder dengan keahlian berbeda, dan tak melulu ahli di bidang digital. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menawarkan solusi tepat untuk mengatasi berbagai permasalahan yang melanda masyarakat.

“Dengan kolaborasi berbagai bidang tadi, lewat 1000 startup itu kita bisa membuat solusi yang bagus. Akan muncul startup-startup yang menyelesaikan masalah di negeri ini,” tutur Fadli.

BACA JUGA:  Di Bali, Gerakan Nasional 1.000 Startup Digital Masuki Tahap "Ignition"

Fadli mengakui, memasuki dunia startup itu memanglah tak mudah. Berbagai tantangan pun harus siap dihadapi untuk bisa bertahan dengan produk yang ditawarkan. Bahkan, ada beberapa hal yang justru ‘haram’ dilakukan dalam dunia startup, salah satunya adalah asumsi.

Kutipan “Asumsi itu Membunuh” bisa dibilang cukup populer dalam Gerakan Nasional 1000 Startup Digital. Bukan tanpa alasan, asumsi menjadi ‘haram’ bagi founder startup lantaran ukurannya yang tak valid. Meski terlihat sepele, asumsi tersebut secara tak langsung menutup mata founder akan fakta seputar usaha yang didirikannya. Dengan demikian, kegagalan untuk mendirikan bisnis startup tentu menunggu di depan mata.

“Jangan asumsi. Setiap hal yang dibangun selalu pakai data. Misal begini, gak boleh nyebutnya, ‘banyak orang miskin di indonesia’. Tapi harus nyebutin, ‘berapa seh jumlah orang miskin di Indonesia’. Jadi gak boleh pake asumsi gitu,” paparnya.

Fadli menegaskan, kunci menuju sukses adalah dengan memaksimalkan data yang ada serta meminimalkan asumsi. “Karena kebanyakan asumsi itu justru bisa membunuh (Pen: bisnis startup), karena, gak melihat realitanya. Buka mata, maksimalkan data, minimkan asumsi. Caranya adalah dengan pergi ke customer, ngomong dengan mereka,” pungkasnya.

Fadli sendiri merupakan CEO Pasienia, sebuah produk startup digital yang bertujuan untuk membantu para pasien agar dapat berinteraksi dan saling mendukung satu sama lain. Pria kelahiran 29 tahun silam ini menamatkan pendidikannya di Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Saat ini, ia aktif sebagai konsultan bisnis di Inbis UGM, dan Startup General Practitioner di KIBAR.

 Originally posted on Merdeka.com Malang
Categories: Tech & Startups