“Kok bisa?”
Itu sebuah pertanyaan sederhana yang muncul tiap kali kita melihat kejadian yang rasanya di luar akal. Atau jika kita melihat kejadian yang sebenarnya lazim terjadi, hanya saja tak benar-benar memahaminya.
Pertanyaan inilah yang mendorong terciptanya Kok Bisa?, sebuah channel YouTube yang diprakarsai Ketut Yoga, lalu dibantu dikembangkan oleh Gerald Bastian. Keduanya adalah alumnus Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia.
Semua berangkat dari rasa penasaran.
Kok Bisa? terbentuk dari nol menjadi “bisa” karena kekhawatiran Ketut.
“Pas dia (Ketut) masih mahasiswa, dia merasa resah dengan tayangan yang ada di televisi. Kok kayaknya isinya nggak bermutu,” ujar Gerald saat berbincang dengan kumparan di Menteng, Jakarta Pusat, awal Februari.
Ia melanjutkan, “Ketika dia sudah menyerah sama TV, dia nonton YouTube, dan ternyata YouTube nggak beda jauh. Di YouTube juga kontennya kurang, dan bahkan kalau konten edukatif tuh kita mesti (lihat akun) luar negeri dulu. Di Indonesia ternyata nggak ada. Akhirnya Kok Bisa? dibuat.”
Ketut Yoga dan Gerald berjuang bersama. Mereka mengeluarkan modal awal dari kantong sendiri, dan merangkak sedikit demi sedikit untuk membangun Kok Bisa?
Sekarang, Kok Bisa? setidaknya bisa “mendidik” 426 ribu subscriber-nya yang setia menunggu konten video edukatif andalan akun YouTube itu.
Gerald tak menyangka usaha dan mimpi mereka untuk menyediakan sarana edukasi alternatif bagi masyarakat, akhirnya bisa terwujud. Ia tak mau membeberkan jumlah uang yang dihasilkan Kok Bisa? dari YouTube. Namun, ujar Gerald, pemasukan itu cukup untuk menghidupi seluruh kebutuhan Kok Bisa? baik dari segi produksi konten hingga finalisasinya.
Para pendiri Kok Bisa? memang tak pernah terlalu memikirkan uang. Mereka yakin, misi untuk mengedukasi khalayak lewat YouTube bukan tentang mencari uang. Baginya, adalah motivasi yang salah ketika seorang YouTube content creator hanya ingin mencari uang dari YouTube.
“Sebenarnya YouTube itu kan media platform di mana kita bisa menyampaikan ekspresi kita melalui video,” kata Gerald.
<iframe width=”560″ height=”315″ src=”https://www.youtube.com/embed/JFBNvo9GsFI” frameborder=”0″ allow=”autoplay; encrypted-media” allowfullscreen></iframe>
Jadi, Gerald selalu menekankan bahwa YouTube tak bisa dipandang hanya sebagai platform untuk dimonetisasi. Bagi Gerald dan Kok Bisa?, kiprah di Youtube merupakan wujud dari tujuan dan mimpi bersama.
This is our passion, this is our purpose. Tujuan kami gampang, cuma ingin mendidik sesuatu yang hilang di Indonesia, yaitu curiosity dan juga konten-konten edukasi,” ujar Gerald.
Namun, berjuang memang tak semudah itu. Ada masa di mana semua terasa melelahkan dan membosankan. Hal ini lumrah dirasakan. Hanya, ini semua tentang mereka yang mau terus bergerak. Maka, rasa lelah dan bosan tak lantas menghalangi perjalanan Kok Bisa?
“Kami bisa aja berhenti upload video. Tapi sebenarnya yang bikin semangat itu adalah ketika lu sadar bahwa yang lu lakukan ini bukan cuma sekadar untuk diri lu, tapi untuk semua orang yang ada, terutama untuk para subscriber lu,” kata Gerald.
 
<iframe width=”560″ height=”315″ src=”https://www.youtube.com/embed/vSC_34CBDkM” frameborder=”0″ allow=”autoplay; encrypted-media” allowfullscreen></iframe>
Kok Bisa? berbasis konten kreatif edukatif di mana ide menjadi salah satu kunci utama kesuksesan. Sehingga ide yang disajikan harus segar dan menarik. Dalam proses penggodokan ide untuk konten, tim Kok Bisa? selalu mencari hal-hal sederhana yang kerap kali dipertanyakan orang-orang.
Based on curiosity. Jadi Kok Bisa? punya dua formula: curiosity dan simple. Jadi kalau udah ada rasa ingin tau, kita butuh jawaban yang bisa disederhanakan dengan bahasa manusia. Curiosity-nya tinggal lihat kolom komentar. Kami nggak menutup kemungkinan bagi mereka (subscriber) untuk bertanya apapun,” ujar Gerald.
Dengan menampung pertanyaan dan menyajikannya lewat video kreatif, khalayak merasa dilibatkan sekaligus dididik melalui konten Kok Bisa? Selain itu, cara ini juga berguna untuk mencari ide-ide konten yang lucu dan segar buat disajikan.
Tak jarang, pertanyaan unik nan random seperti “Mengapa kita kentut” dan “Akankah ada perang dunia ketiga?” pun dicoba jawab oleh Kok Bisa? dengan menghadirkan konten video berisi topik terkait sebagai jawaban.
Kok Bisa? memerlukan sedikitnya 3 hari hingga 3 minggu untuk proses produksi, dimulai dari pencarian ide, riset, hingga akhirnya video siap tayang. Durasi proses produksi tergantung topik yang tengah dibahas. Ada kalanya, Kok Bisa? membutuhkan tiga minggu untuk menyiapkan satu konten video dengan bahasan unik namun rumit.
“Misal yang soal perang dunia ketiga. Wah, itu lama banget nyarinya. Ada juga tentang apakah ada kehidupan lain di bumi. Itu ngerjain solid 3 weeks. Literally solid,” kata Gerald.
<iframe width=”560″ height=”315″ src=”https://www.youtube.com/embed/Woq4gq0UOXY” frameborder=”0″ allow=”autoplay; encrypted-media” allowfullscreen></iframe> 
Proses pencarian data dan riset pun tak sembarangan. Buku, jurnal internasional, dan website resmi menjadi andalan utama. Kok Bisa? memegang teguh prinsip bahwa data yang valid ialah tombak utama untuk mendidik khalayak, terutama di era hoax gencar beredar seperti sekarang ini.
Langkah positif Kok Bisa? diikuti sejumlah YouTube Content Creator dengan membuat konten edukatif mirip atau serupa.
https://alibaba.kumpar.com/kumpar/image/upload/c_fill,g_face,f_jpg,q_auto,fl_progressive,fl_lossy,w_800/xnz4qirrukuqol79uldg.jpg

“Gue fine banget kalau ada yang terinspirasi. Tapi kalau sampai niru dan nyolong, nggak bisa,” kata Gerald.

Kok Bisa? mungkin hanya satu dari jutaan channel yang ada di jagat YouTube. Tapi, edukasi alternatif kreatif di dunia digital ini bukan tak mungkin akan meninggalkan jejak-jejak kecil yang mampu membawa perbaikan bagi Indonesia.
Originally posted on Kumparan.
BACA JUGA:  KokBisa Channel Berkunjung ke Istana Negara
Categories: Creative Education