Para pelaku UKM mengikuti program Tatarupa Pahlawan Ekonomi (Foto: Ist)

Surabaya – Choifiyah (70) pantas tersenyum lega. Usaha lapis Surabaya yang dirintisnya sejak 2012, kini terus menunjukkan perkembangan positif. Omzetnya meningkat. Jangkauan pasarnya pun makin luas.

Bersama enam ibu lain yang membantunya, Choifiyah bisa membuat lapis Surabaya bercita rasa tinggi. “Awal-awal buat lapis Surabaya rasanya gak karuan. Saya coba terus sampai gak kehitung berapa kali. Coba pakai adonan yang dimodifikasi sampai teknik memasaknya,” kata perempuan yang karib disapa Bu Jai ini dalam siaran pers yang diterima detikcom, Rabu (28/12/2016).

Cukup lama Bu Jai menjajal produknya. Setelah yakin, ia lantas membagi tester. Hasilnya, lapis Surabaya bikinannya banyak dipuji. “Katanya mirip kue-kue yang di restoran,” ucap Bu Jai menirukan pendapat orang-orang yang mencicipi lapisnya.

Tiga tahun berjualan lapis Surabaya, Bu Jai terpilih ikut program Tatarupa yang digagas Pahlawan Ekonomi Surabaya bersama Kreavi. Kue bikinannya di-repackaging. Setelah melalui tahapan konsultasi beberapa kali dengan desainer Kreavi, kemasan lapis Surabaya Bu Jai jauh lebih elegan dan eksklusif.

Bu Jai tak mengira jika dengan kemasan baru, harga lapis Surabaya bisa naik dua kali lipat. Dulu, dia hanya bisa menjual lapis Surabaya seharga Rp 25-30 ribu per kotak. Kini, lapis Surabaya yang dilabeli Dapur Flamboyan bisa dijual Rp 60 ribu per kotak.

Pasar penjulannya juga makin berkembang. Lapis Surabaya milik perempuan yang punya 9 cucu ini, rutin dipesan Citilink. Tidak hanya itu, produk lapis Surabaya Bu Jai sudah dikirim ke berbagai daerah. Di antaranya ke Papua, Kalimantan Barat, Batam, dan Jakarta.

Bukan hanya Bu Jai, Sigit Prihanto (38 tahun) juga merasakan hal serupa. Pria yang akhirnya mentas setelah terjerumus mengonsumsi obat-obatan terlarang, awalnya hanya menjual bakso biasa. Jualannya sempat berpindah-pindah. Ia sempat ‘hijrah’ di Palu, bahkan sampai ke Malaysia.

BACA JUGA:  Satu Donor Bisa Selamatkan 3 Nyawa

“Kalau di Malaysia saya biasa pakai daging kijang, bukan sapi. Karena daging kijang lebih murah,” akunya.

Tahun 2010, Sigit akhirnya kembali pulang ke Surabaya. Aktivitasnya masih sama, menjual bakso. Sebagai pedagang kaki lima (PKL), ia tak punya tempat permanen. Sudah tak terhitung berapa kali dia ‘diusir’ Satpol PP karena menjual bakso di jalanan.

Sigit lantas berkenalan dengan Erika, petugas Bakesbang Linmas Surabaya. Ia kemudian diajak bergabung Pahlawan Ekonomi. Kebetulan, saat itu, ada kegiatan road show di Kecamatan Sawahan yang menjajakan produk-produk usaha kecil dan menengah (UKM).

Gairah berbisnis Sigit makin menyala-nyala. Apalagi saat dia mendapat kesempatan ikut program Tatarupa, Perkenalannya dengan Timothy istianto (saat masih menjadi desainer Kreavi, red) yang membantu Pahlawan Ekonomi, membawanya memasuki dunia baru.

“Saya masih ingat, saya ditantang Mas Timmy (panggilan karib Timothy istianto, red) buat bakso yang nggak umum. Warnanya harus beda. Karena sekarang musim makanan yang berwarna,” aku Sigit, mengenang.

Tercetuslah ide membuat bakso hitam. Bakso yang terbuat dari aktif charcoal (arang bamboo Jepang). Cara masaknya di smoke (pengasapan). Bahan aktif charcoal ini untuk detoks pencernaan. Dalam baksonya sendiri hanya ada mi kuning, taoge, mie putih, sawi. Kelengkapan bakso hitam lainnya seperti tahu, siomay, dan gorengan tidak pakai bahan itu. Khusus baksonya saja.

Dalam perjalanan, Sigit menamai baksonya Chok Judes (coklat, keju, pedes). Lamat-lamat, bakso hitam mulai dikenal masyarakat. Bukan hanya kalangan dewasa, Bakso hitam juga menyasar kalangan ABG dan anak-anak.
Dengan brand ini, Sigit kini mampu meraup omzet Rp 15-20 juta sebulan.
Bahkan, saat bazar kuliner yang digelar dalam rangka penyelenggaran Prepcom 3 UN Habitat III pada 26-27 Juli 2016 di Surabaya, Sigit mampu meraup omzet sekitar Rp 30 juta.

BACA JUGA:  Geekfest 2017 Ajak Arek Suroboyo Lebih Kreatif

Bu Jai dan Sigit adalah dua generasi beda usia yang sama-sama mencecap manisnya bisnis kuliner. Kedua anggota Pahlawan Ekonomi itu kini bisa mandiri dan membantu orang-orang di sekitarnya untuk membuka usaha.

Vincentius Surya Putra, Koordinator Kreavi Surabaya yang juga Project Manager Tatarupa, mengakui hingga kini sudah menyelesaikan 200 produk UKM yang telah repackaging.

“Kami membagi dalam lima batch. Masing-masing batch terdiri dari produk UKM yang tergabung dalam cluster creative industry, culinary business, dan home industry,” katanya.

Kata dia, program Tatarupa merupakan sebuah wadah bagi desainer dan talenta kreatif visual di Indonesia. Tujuannya mendorong anak muda berkarya dan berkreasi dalam seni dan desain. Program ini menjembatani desainer dengan UKM Surabaya untuk berkolaborasi.

“Kami ingin menciptakan dampak positif. Pelaku UKM jadi lebih ngerti pentingnya branding dan desain dalam sebuah produk. Juga meningkatkan daya saing produk di pasar nasional dan internasional,” tegasnya.

Humas Pahlawan Ekonomi Agus Wahyudi mengungkapkan, program Tatarupa ini mampu mengangkat produk UKM bersaing di level lebih tinggi. Itu dibuktikan dari banyaknya produk Tatarupa yang kini membanjiri ritel modern, restoran, dan mal.

“Kami bersyukur, makin banyak UKM yang sadar produknya harus di-repackaging. Tahun ini yang antre mendaftar mencapai seribu UKM,” ungkapnya.
(fat/iwd)

 Originally posted on detikNEWS.