Anda pastilah sangat akrab dengan karakter animasi negeri Jepang semacam Doraemon, Naruto, Pokemon, dan lain-lain. Anda juga pastilah sudah hapal dengan karakter animasi dari negara-negara barat seperti Superman, Batman, Iron Man, Hulk, X-Man dan masih banyak lagi. Terakhir dari negeri Jiran Malaysia, muncul karakter Upin dan Ipin yang menghiasi televisi kita.

Begitu dominannya karakter asing menghiasi layar kaca sampai banyak yang tak menyadari bahwa Indonesia sebetulnya telah menelurkan beberapa karakter animasi sendiri. Sosok yang mencoba menerobos dominasi karakter animasi asing inilah yang menjadi fokus utama dari seorang Andi Martin, CEO Kratoon Channel.  Kreator yang sudah lama berkiprah di dunia animasi ini sebenarnya menolak disebut sebagai animator, karena menurutnya yang ia kerjakan bukanlah membuat animasi, tetapi mengembangkan kekayaan intelektual.

“Memang awalnya saya memulai bisnis ini karena memang ini hobi saya,” kata Andi saat diwawancarai khusus oleh Suara.com, di Jakarta, Senin (19/9/2016).

Saat kuliah, ia dengan mantap memutuskan untuk mengambil jurusan Desain Komunikasi Visual di Savannah College of Art and Design. Ia memulai perkuliahan pada tahun 1996, namun kemudian terpaksa berhenti dan pulang ke Indonesia pada tahun 1998. Krisis ekonomi lah yang memaksanya pulang ke Indonesia. Andi Martin pun melanjutkan studinya ke jurusan yang sama di Universitas Pelita Harapan (UPH). Saat itu, hanya UPH yang bersedia menerima credits perkuliahannya dari Amerika Serikat.

 Pada tahun 2001, Andi Martin mencoba peruntungannya pertama kali di industri kreatif dengan membuat sebuah online game yang diberi nama Inspirit Arena.Game yang dirancang Andi Martin bersama beberapa rekan ini awalnya hanya ingin diikutsertakan ke sebuah kompetisi game design. Namun, saat konsep ini ditunjukkan ke orang-orang, seorang investor tertarik untuk membantu Inspirit Arena. Inilah yang menjadi cikal-bakal studio gameAltermyth, di mana Andi Martin adalah salah satu co-founder-nya.

Inspirit Arena memerlukan waktu tiga tahun dalam pengembangannya, hingga dirasa matang untuk dirilis. Sayangnya, saat baru akan diluncurkan, game legendaris Ragnarok booming di Indonesia. Perhatian seluruh gamerpun tertuju kepada permainan tersebut, dan Inspirit Arena gagal bersaing. Ini pelajaran yang didapat Andi Martin sebagai kreator: timing is crucial.

Gagal di bisnis game, tak membuat Andi patah arang. Mulai tahun 2007, Andi Martin berganti haluan dari game ke animasi. Ia mendirikan Main Studios, sebuah studio animasi. Bermodal nekat, Main Studios tidak memiliki klien sama sekali awalnya. Namun, saat itu sebenarnya Andi Martin sedang menciptakan suatu karaktersuperhero bernama Hebring, yang ingin ditekuninya agar dapat berkembang sebagai kekayaan intelektual.

BACA JUGA:  GeekFest: Kolaborasi Penggiat Seni & Teknologi di Bandung

Untungnya, saat itu pintu kesempatan terbuka dengan adanya kompetisi animasi merupakan bagian dari rangkaian Indonesia ICT Award (INAICTA). Dengan karakter Hebring yang diciptakannya, Andi Martin bersama rekannya, M. Fardiansyah, membuat animasi 3D pertama Hebring untuk diikutsertakan dalam kompetisi tersebut. Main Studios pun memenangkan juara pertama.

Kemenangan ini membawa Main Studios mendapatkan banyak klien animasi. Dari jasa pembuatan animasi inilah Main Studios bisa bertahan sampai sekarang. Sayangnya bisnis animasi dengan menampilkan karakter buatan lokal sulit mendapat tempat di tanah air. “Kebanyakan industri televisi kita maunya menayangkan karakter animasi asing yang sudah memiliki fans base yang luas. Biayanya juga jauh lebih murah karena hanya membayar biaya distrikusi penayangan karakter animasi asing. Sementara kalau membeli produk tayangan animasi lokal, harus membayar biaya produksinya sehingga jatuhnya lebih mahal dan belum tentu juga laku. Ini problem yang membuat industri animasi kita sulit berkembang,” ujar Andi.

Kondisi inilah yang sangat disesalkan Andi. Ia mencontohkan karakter animasi Upin dan Ipin dari Malaysia. Menurutnya, pemerintah Malaysia sangat serius mempromosikan karakter animasi tersebut untuk kepentingan nasional. Sementera di Indonesia, meskipun sudah pergantian Presiden dan Menteri, keberpihakan pemerintah terhadap keberlangsungan industri kreatif, termasuk industri animasi dalam negeri masih sangat kurang.

“Saat ini kami baru mempromosikan 10 karakter animasi lokal. Belum banyak karena ada keterbatasan sumber daya manusia (SDM),” jelas Andi.

Walau demikian, Andi optimis peluang bisnis animasi karakter lokal masih sangat bisa berkembang. Sebab potensi pasar Indonesia masih sangat besar. Belum lagi keberadaan media sosial yang cukup membantu. “Kami juga mencoba mengembangkan bisnis kami melalui merchandise,” tutup Andi.

 

Originally posted on SUARA

Categories: Creative